Landasan Pendidikan Islam | Makalah
MAKALAH
LANDASAN PENDIDIKAN ISLAM
Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Landasan Pendidikan Islam
Jurusan Tadris IPA Biolagi-D Semester 1
Tahun akademik 2014/2015
Dosen pengampu :
Drs. H. Endang, M.Pd
Kelompok 2
Ida Siti Nur'aida (1414163138)
Malik Abdul Aziz (1414163143)
Otong Sholeh (1414163149)
Ummu Kulsum (14143165)
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terdapat cukup banyak alasan mengenai pembelajaran Pendidikan Islam. Kiranya, kegiatan pendidikan bukanlah sekedar gejala sosial yang bersifat rasional semata, mengingat kita semua mengharapkan pendidikan secara Islami.
Ilmu Pendidikan Islami merupakan ilmu pendidikan yang berdasarkan atau berlandaskan keislaman. Islam sendiri ialah nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW berisi seperangkat anjuran tentang kehidupan manusia, ajaran tersebut dirumuskan berdasarkan atau bersumberkan pada Al-Qur’an dan hadits serta akal. Jika demikian, landasan pendidikan Islam adalah yang bersumber pada ketiga dasar diatas yakni Al-Qur'an, hadits, dan akal.
Sehubungan dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara daerah satu dengan daerah lain, sehingga banyak pemikiran yang bermunculan yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya, banyak teori yang dikemukakan para pemikir di berbagai aliran pendidikan.Oleh karena itu, teori pendidikan Islam haruslah dilengkapi dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, dan akal yang menjamin teori tersebut.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian landasan pendidikan Islam?
2. Apa saja ruang lingkup, dasar, dan tujuan landasan pendidikan Islam?
3. Bagaimana pendidikan Islam berdasarkan pendekatan ilmiah ?
4. Bagaimana pendidikan Islam berdasarkan pendekatan sistem ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian landasan pendidikan Islam
2. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang terdapat dalam pendekatan secara ilmiah.
3. Untuk mengetahui pendidikan Islam berdasarkan pendekatan ilmiah.
4. Untuk mengetahui pendidikan Islam berdasarkan pendekatan sistem.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Landasan Pendidikan Islam
Ilmu berasal dari bahasa Arab ‘a-l-m (‘alima).Kata ilmu biasanya digabung dengan pengetahuan sehingga menjadi ilmu pegetahuan.Pendidikan dalam bahasa Arab biasa disebut dengan tarbiyah yang berasal dari kata kerja rabba, sedang pengajaran dalam bahasa Arab disebut dengan ta’lim yang berasal dari kata kerja ‘allama.Pendidikan Islam sama dengan Tarbiyah Islamiyah. Istilah pendidikan sering kali tumpang tindih dengan istilah pengajaran. Oleh karena itu, tidak heran jika pendidikan terkadang dikatakan juga sebagai ‘’pengajaran’’ ataupun sebaliknya.Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berlandaskan Islam.Isi ilmu adalah teori.Isi ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan; ilmu pendidikan Islam merupakan kumpulan teori tentang pendidikan berdasarkan ajaran Islam. Dalam hal lain ilmu pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Islam berisi seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia, ajaran itu dirumuskan berdasarkan dan bersumber pada Al-Qur’an, hadits, dan akal.Oleh karena itu, teori dalam pendidikan Islam haruslah dilengkapi dengan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits atau akal yang menjamin teori tersebut.
Kata “Islam” dalam pendidikan Islam menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam, pendidikan yang Islami, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam. Pembahasan tentang apa pendidikan Islam terutama didasarkan atas keterangan-keterangan al-Qur’an dan hadits, terkadang di ambil juga pendapat dari pakar pendidikan Islam. Pembahasan ini tentulah berbau filsafat, suatu hal yang sulit dihindari.
Pendidikan menurut orang awam, adalah mengajari murid di sekolah, melatih anak hidup sehat, dan lain-lain.Akan tetapi, untuk kepentingan ilmu, dalam hal ini ilmu pendidikan, perumusan definisi yang teliti tidak dapat dihindari.
Menurut Prof.Dr.Omar Mohammad At-Toumi Asy-Syaibani, pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.
Dr.Muhammad Fadhol Al-Jamali memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai berikut; upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaaan, maupun perbuatan.
Marimba (1989:19) menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.Definisi itu baik, mudah dipahami, secara relative mudah dijabarkan menjadi tujuan-tujuan khusus pendidikan.Akan tetapi sebenarnya, definisi itu masih terlalu sempit, belum mencakup seluruh pendidikan.
Definisi yang diungkapkan Marimba masih sempit, sulitnya merumuskan definisi pendidikan disebabkan antara lain:
1. Banyaknya jenis kegiatan yang dapat disebut sebagai kegiatan pendidikan.
2. Luasnya aspek yang dibina oleh pendidikan.
Kegiatan pendidikan dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi tiga yaitu, (1) kegiatan pendidikan dilakukan oleh diri sendiri, (2) kegiatan pendidikan oleh lingkungan, (3) kegiatan pendidikan oleh orang lain terhadap orang tertentu. Adapun binaan pendidikan dalam garis besarnya mencakup tiga daerah: (1) daerah jasmani, (2) daerah akal, dan (3) daerah hati. Bila tidak panjang definisi itu tidak akan mencakup seluruh kegiatan pendidikan. Mungkin inilah sebabnya sebagian orang mengambil definisi secara sempit karena lebih senang, yaitu pendidikan sebagai bimbingan yang sadar oleh seseorang kepada orang lain agar ia menjadi orang yang lebih baik.
Berdasarkan pengertian yang luas, pendidikan ialah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud pengembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh orang lain. Pendidikan berupa pengaruh alam sekitar sulit sekali dirancang oleh manusia.Oleh karena itu, teori-teori pendidikan oleh lingkungan kurang dikembangkan.
Pengertian secara luas bahwa pendidikan ialah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya. Bisadisimpulkan bahwa pendidikan adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal.
Menurut Abdurrahman al-Nahwi, merumuskan tentang definisi pendidikan, kata al-tarbiyyah berasal dari tiga kata, yaitu pertama, kata raba-yarbu yaitu berarti bertambah, bertumbuh, seperti yang terdapat di dalam Al-Qur’an surat al-Rum ayat 39 yang artinya "Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah……", kedua, rabiyu-yurba yang berarti menjadi besar, ketiga, dari kata rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara.
Berdasarkan ketiga kata itu, beliau menyimpulkan bahwa pendidikan terdiri dari empat unsur, yaitu: pertama, menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa; kedua, mengembangkan seluruh potensi; ketiga, mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempurnaan, dan keempat, dilaksanakan secara bertahap. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah pengembangan seluruh potensi anak didik secara bertahap menurut ajaran Islam.
Bagi orang Islam, pengetahuan adalah Allah dan tidak ada pengetahuan selain yang datang dari Allah. Sumber pertama sekarang ini ada di dalam Al-Qur’an atau hadits Rasulullah saw. Inilah kebenaran yang pertama. Dalam sistem pengetahuan Islami ini kita melihat yang harus dipertanggungjawabkan oleh teori sains, teori sains dipertanggungjawabkan oleh teori filsafat, dan teori filsafat harus dipertanggungjawabkan oleh wahyu. Dengan cara ini dapatlah disusun suatu sistem pengetahuan, sekaligus sistem kebenaran, yang tidak mungkin lepas dari kebenaran Tuhan.
B. Ruang lingkup, dasar, dan tujuan Landasan Pendidikan Islam
1. Ruang lingkup Landasan Pendidikan Islam
Ruang lingkup bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal yang menyeluruh dan mengendung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini, termasuk kehidupan manusia, baik di masa sekarang maupun di masa mendatang.
Pola dan sisitem berfikir filosofis dilaksanakan dalam ruang lingkup yang yang menyangkut pada bidang-bidang sebagaiberikut :
a) Casmologi, yaitu suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataanhidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, serta proses kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata, dan sebagainya.
b) Ontology, yaitu suatu pemikiran tenttang asal usul kejadian alam semesta, dari mana dan ke arah mana proses kejadiannya.
c) Philosophy of mind, yaitu pemikiran filosofis tentang jiwa dan bagaimana hubungnnya dengan jasmani serta bagaimana tentang kebebasan berkehendak manusia, dan sebagainya.
d) Epistimologi, yaitu pemikiran tentang apa dan bagaiman sumber pengetahuan manusia diperoleh; apakah dari akal pikiran atau dari pengalaman panca indra.
2. Dasar Landasan Pendidikan Islam
Dasar Landasan Pendidikan Islam merupakan landasan operasional untuk merealisasikan dasar ideal atau sumber pendidikan Islam. Menurut Hasan Langgulung, dasar operasional pendidikan Islam ada enam yaitu, historis, sosiologis, ekonomi, politik dan administrasi, psikologis, dan filosofis. Dalam Islam, dasar operasional segala sesuatu adalah agama, sebab agama menjadi frame bagi setiap aktifis yang bernuansa keislaman.
a) Dasar Historis
Dasar Historisadalah dasar yang berorientasi pada pengalaman pendidikan masa lalu, baik dalam bentuk undang-undang maupun peraturan-peraturan, agar kebijakan yang ditempuh masa kini akan lebih baik.
b) Dasar Sosiologis
Dasar Sosiologis adalah dasar yang memberikan kerangka sosio-budaya yang mana dengan sosio-budaya itu pendidikan di laksanakan.Dasar ini juga berfungsi sebagai tolak ukur dan prestasi belajar.
c) Dasar Ekonomi
Dasar Ekonomi adalah yang memberikan perspektif tentang potensi-potensi finansial, menggali, dan mengatur sumber-sumber serta bertanggung jawab terhadap rencana dan anggaran pembelajarannya.
d) Dasar Politik dan Administrasi
Dasar Politik dan Administrasi adalah dasar yang memberikan bingkai ideologis yang digunakan sebagai tempat bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan dan direncanakan bersama.
e) Dasar Psikologis
Dasar Psikologis adalah dasar yang memberikan informasi tentang bakat, minat, watak, karakter, motivasi dan inovasi peserta didik, pendidik, tenaga administrasi, serta sumber daya manusia yang lain.
f) Dasar Filosofis
Dasar Filosofis adalah dasar yang memberi kemampuan memilih yang terbaik, memberi arah suatu sistem, mengontrol dan memberi arah kepada semua dasar-dasar operasional lainnya.
g) Dasar Religios
Dasar Religiosadalah dasar yang diturunkan dari ajaran agama. Dasar ini secara detail telah dijelaskan pada sumber pendidikan Islam. Dasar ini menjadi penting dalam pendidikan Islam.Sebab, dengan dasar ini semua kegiatan pendidik jadi bermakna.
3. Tujuan Landasan Pendidikan Islam
Untuk merumuskan tujuan pendidikan Islam harus diketahui lebih dahulu ciri manusia sempurna menurut Islam.Hakikat manusiamenurut Islam yaitu manusia makhluk ciptaan Allah ia tidaklah muncul dengan sendirinya atau berada oleh dirinya sendiri. Pengetahuan tentang asal kejadian manusia ini amat penting artinya dalam merumuskan tujuan pendidikan bagi manusia. Asal kejadian ini justru harus menjadi pangkal tolak dalam menetapkan pandangan hidup bagi orang Islam. Pandangan tentang kemakhlukan manusia cukup menggambarkan hakikat manusia. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah inilah salah satu hakikat wujud manusia. Hakikat wujud yang lain ialah bahwa manusia adalah makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Dalam perkembangannya, manusia itu cenderung beragama.
Agama diperlukan manusia karena manusia memerlukan kerangka orientasi dan objek pengabdian dalam kesempurnaan hidupnya. Pengertian lain dari manusia adalah bahwa manusia itu makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia itu mempunyai aspek jasmani, dan itu sungguh-sungguh. Dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77 Allah berfirman :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Yang artinya :"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Uraian di atas menunjukkan bahwa manusia dalam pandangan Islam mempunyai aspek jasmani. Sebenarnya aspek jasmani itu tidak dapat dipisahkan dari aspek rohani, tatkala manusia masih hidup di dunia. Pendapat yang merendahkan fungsi tubuh jasmani tidak terdapat di dalam Islam. Menurut pendapat Abdul Fatah Jalal, hanya di sebutkan dua kali dalam al-Qur’an yang pertama dalam bentuk tunggal yang kedua dalam bentuk jamak.Harun Nasution menerangkan ada tujuh kata yang digunakan dalam al-Qur’an untuk menunjuk kepada akal.
Aspek yang ketiga yaitu potensi rohani. Penjelasan aspek ini antar lain terdapat dalam surat al-Hijr ayat 29 yang artinya :"Maka bila aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalam roh-Ku, maka sujudlah kalian kepadanya.''(Al-Hijr:29). Dengan demikain,aspek pokok manusia adalah jasmani, akal, dan rohani.
Manusia sempurna menurut Islam tidak mungkin di luar hakikatnya. Ciri dari manusia yang sempurna yaitu :
1. Jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan
Dalam surat al-Anfal ayat 60 disebutkan agar orang Islam mempersiapkan kekuatan dan pasukan berkuda untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Yang dimaksud musuh Allah ialah yang mengancam agama Islam. Persiapan itu diselenggarakan antara lain berupa pendidikan jasmani. Jasmani yang berkembang dengan baik haruslah kuat, artinya kuat secara fisik. Cirinya yang mudah dilihat ialah adanya otot yang berkembang dengan sempurna.Kesehatan dan kekuatan juga berkaitan dengan kemampuan menguasai filsafat dan sains serta pengelolaan alam. Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan juga dengan ciri lain yang dikehendaki ada pada Muslim yang sempurna yaitu menguasai salah satu keterampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki.
2. Cerdas serta pandai
Islam menginginkan pemeluknya cerdas serta pandai.Kecerdasan dan kepandaian itu dapat ditilik melalui indikator-indikator sebagi berikut; pertama, memiliki sains yang banyak dan berkualitas tinggi.Sains adalah pengetahuan manusia yang meruapakan produk indera dan akal; dalam sains kelihatan tinggi dan rendahnya mutu akal dankedua, mampu memahami dan menghasilkan filsafat. Berbeda dari sains, filsafat adalah jenis pengetahuan yang semata-mata akliah. Dengan ini, manusia mampu memecahkan masalah filosofis.
3. Rohani yang berkualitas tinggi
Menurut surat al-Maidah ayat 41 kata-kata iman tidaklah merupakan pertanda bahwa orang yang mengatakannya sudah beriman, iman itu di hati bukan di mulut.Berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa kalbu yang berkualitas tinggi itu adalah kalbu yang pernah berisi iman, pengetahuan tentang Tuhan, tetapi yang dikepala itu bukan iman, iman itu di dalam hati.
Setelah diketahui ciri-ciri manusia yang sempurna menurut Islam, kini kita akan jelaskan tujuan pendidikan Islam. Al-Attas menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik.Marimba berpendapat, bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim. Al-Abrasyi menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia berakhlak mulia. Munir Mursyi menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia sempurna.
Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan terwujud tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip surat al-Takwir ayat 27, Jalal menyatakan bahwa tujuan itu untuk semua manusia. Jadi menurut Islam pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri adalah beribadah kepada Allah. Tujuan pendidikan haruslah mempersiapkan manusia agar beribadah dengan baik dan benar, agar ia menjadi hamba Allah. Dengan melihat tujaun umum seperti itu, dapatlah dibuat rumusan tujaun pendidikan yang lebih khusus yaitu dengan mempelajari lebih dahulu apa saja aspek ibadah tersebut.Aspek ibadah yang pertama adalah apa yang oleh fuqoha disebut ‘ibadat, yaitu rukun Islam seperti yang disebut di dalam hadits yang diriwayatkan baik oleh Bukhari maupun oleh Muslim. Aspek ibadah yang ini merupakan kewajiban orang Islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar. Dan beberapa orang di antara Muslim harus ada yang tidak memepelajari sekedarnya saja, tetapi harus mempelajarinya secara luas dan dalam.
Dalam surat at-Taubah ayat 122 pengetahuan tentang agama adalah pengetahuan tentang al-Qur’an dan hadits, terutama tentang kelima rukun Islam, jelas harus menjadi salah satu tujuan pendidikan Islam.Aspek ibadah yang selanjutnya ialah aspek amal untuk mencari rezeki, seperti yang telah Allah firmankan. Jadi tujuan pendidikan Islam haruslah pada diri manusia itu sendiri, menjadi pribadi yang baik dan taat pada aturan agama.
C. Pendidikan Islam berdasarkan pendekatan ilmiah
Pendekatan selalu berkaitan dengantujuan, metode dan teknik. Dalam proses pendidikan Islam, pendekatan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan. Pendidikan tidak akan efektif tidak melakukan pendekatan ketika menyampaikan suatu materi dalam proses belajar mengajar. Berikut beberapa pendekatan ilmiah pendidikan Islam:
1. Pendekatan sains
Pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu, dengan berbagai cabangnya, seperti:(1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan; (2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar. Pendekatan Sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya.Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam. (3) administrasi atau manajemen pendidikan adalah suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien; (5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa; (6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi. Tentunya masih banyak cabang-cabang ilmu pendidikan lainnya yang terus semakin berkembang yang dihasilkan melalui berbagai kajian ilmiah.
2. Pendekatan induksi
Pendekatan induksi adalah suatu pendekatan yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagi hasil dari suatu pengamatan sehaingga kiat bisa menarik kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum.dalam hal ini pendekatan induksi adalah keblaikan dari pendekatan deduksi. Dengan kata lain apabila kita melakukan pendekatan induksi memudahkan kita untuk menanggulangi suatu masalah teruitama bisa dalam hal pendidikan.
3. Pendekatan deduksi
Pendekatan deduksi adalah kebalikan dari pendekatan induksi.Induksi bergerakdari hal-hal yang bersifat khusus ke umum, sementara deduksi adalah sebaliknya, yaitu suatu cara analisa ilmiah yang bergerak dari hal-hal yang bersifat umum kepada hal-hal yang bersifat khusus.Pendekatan deduksi ini paling banyak dipakai. Tujuan dari pendekatan ini sama dengan pendekatan induksi yang membedakannya terletak pada sifat kekhususan dan keumumannya saja dan sama-sama membimbing siswa agar dengan mengambil kesimpulan dari berbagai persoalan analisis yang ada.
D. Pendidikan Islam berdasarkan pendekatan system
Pemikiran teoritis berdasarkan pendekatan sistem mendapatkan inspirasi dari fenomena-fenomena gerakan yang sistematik seperti yang terdapat dalam mekanisme benda-benda samawi secara makrokosmatik dan dalam tubuh manusia sendiri mikrokosmik.Semua fenomena itu di pelajari dari kandungan ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an.Dilihat dari sistematik, kehidupan manusia secara jasmaniah dan rohaniah jelas menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan hidupnya berjalan dalah suatu proses secara konsisten dan kontinu menuju ke arah titik optimal dan kemampuan pertumbuhan dan perkembangnnya.
Pendidikan Islam yang ruang lingkupnya sama sebangun dengan kebutuhan hidup umat manusia dalam seluruh bidang-bidangnay secara sistematik adalah proses mempengaruhi pertumbuahan dan perkembangan menuju titik optimal kemampuan manusia berlandaskan nilai-nilai Islami, berlangsung menurut sistem hokum tertentu yang menentukan corak dan watak asli akhirnya.
Ilmu Pendidikan Islam mempunyai khazanah sumber inspirasi dari Al-Qur’an dan sunnah nabi SAW seharusnya dapat mengembangkan berbagai model institusional dan kurikuler kependidikan yang aspiratif dan akomodatif terhadap tuntutan kemajuan zaman. Islam adalah agama yang kaya dengan sumber motivasi yang mendorong umatnya untuk maju sesuai tuntutan hidupnya dari zaman ke zaman. Orientasi pendidikan Islam adalah kebutuhan uamt manusia yang mendambakan kemajuan yang mensejahterakan hidupnya masa kini dan masa depan sampai hidup di alam akhirat setelah mati.Semakin banyak gangguan dalam suatu sistem, maka semakin besar pula daya perusak yang mengancam mekanisme sistem itu dan semakin menjauhkannya dari tujuan yang dicita-citakan.Kaitannya dengan sistem kehidupan sosial, Allah menunjukkan suatu sistem harmonisasi hubunagn dengan sesamanya secara seimbang, serasi dan selaras. Bila sistem hubungan itu tidak harmonis, maka timbullah kerusakan.
Pendidikan Islam yang mempunyai sasaran analisis seluruh kehidupan manusia sebagai makhluk individual, sosial, dan religious bila dibandingkan dengan makrokokospik adalah merupakan bentuk model miniature dari sistem semesta alam yang tunduk kepada tertib gerakan dinamis yang serba sistematik yang telah ditetapkan hukum-hukumnya oleh Maha Penciptanya. Secara internal kehidupan sosial yang tertib dan tentram, selalu bertumpu pada sistem yang harmonis hubungan-hubungan antara anggota masyarakat sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing. Dilihat dari sejarah perkembangan Islam, pendidikan Islam berproses dari konsep sistematik yang berintikan pada pembentukan pribadi muslim mukmin, lalu meluas ke arah pembentukan keluarga muslim muttaqien yang dimensnya semakin membesar atau melebar kearah pembentukan masyarakat bangsa atau umat muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Oleh karena itu orientasi pendidikan Islam secara operasional adalah terarah kepada cita-cita hidup Islam dalam seluruh bidang kehidupan umat manusia.
Sejalan dengan pendekatan sistem, orientasi pendidikan Islam itu memiliki karakteristik yang bersifat “goal-oriented” secara operasioanal pendidikan Islam yang dilaksanakan mendasarkan pendekatan sistem itu dapat dikembangkan ke dalam model sebagai berikut :
1. Secara sistematik, manusia didik dipandang sebagai makhluk yang integralistik, total yang terbentuk dari unsur rohaniah dan jasmaniah yang tak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Masing-masing unsur tersebut memiliki organ-organ psikis dan fisikal yang bekerja secara fungsional saling mempengaruhi dan saling mendorong perkembangan ke arah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam pendidikan Islam.
2. Secara pedagosis, pendidikan Islam diletakkan pada strategi pengembangan seluruh dasar (fitrah) secara integralistik, menuju ke arah pembentukan pribadi muslim paripurna (serbaguna) dalam dimensi rohanaih dan jasmaniahnya untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Islam yang berorientasi kepada kesejahteraan hidup dunaiwi-duniawi secara simultans (bersamaan).
3. Institusionalisasi (pelembagaan) pendidikan Islam diwujudkan dalam struktur yang hierarkis berjenjang sejalan dengan tingakt perkembangan jiwa manusia didik, menuju kea rah optiamlisasi kemampuan belajarnya yang semakin mendalam dan meluas. Instusi pendidikan Islam selain bertugas sebagai wadah juga berfungsi mengarahkan proses kependidikan sesuai dengan program-programnya yang telah ditentukan.
4. Secara kurikuler, pendidikan Islam mengarahkan seluruh input instrumental (guru, metode, kurikulum dan fasilitas) dan input environmental (tradisi kebudayaan, lingkungan masyarakat, lingkungan alam) menjadi bentuk suatu program kegaitan kependidikan yang ditujukan kepada merealisasiakan cita-cita Islami yaitu produk pendidikan Islam yang diharapkan. Proses pelaksanaan kurikuler itu harus berdasarkan atas efesiensi dan efektivitas pengelolaan secara tahap demi tahap, sesuai dengan tingkat kemampuan manusia didik.Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan tugas-tugas yang melampaui kemampuan yang ada pada diri masing-masing, melainkan diukur dengan kemampuannya. Bagi yang telah melaksanakannaya dengan sukses, maka Allah memberikan pahala kepadanya dan bila tidak mau melaksanakannya, maka Allah mengenakan siksa terhadapnya.
Mengembangkan pendekatan sistem ke dalam manajemen pendidikan dengan berbagai model antara lain:
1. Model sistem instruksional
Teknologi instruktusional adalah lebih daripada mesin-mesin yang diterapakan pada proses belajar-mengajar. Ia adalah cara berpikir yang didasarkan atas pendekatan baru tentang sistem belajar atau pengaturan organisasional tentang proses belajar, juga umat mementingkan peralatan perangkat keras. Teknologi instruksional mempergunakan alat-alat untuk mengorganisasikan pikiran tentang berbagai bentuk teknologi instruksional.Prinsip teknologi yang diterapkan dalam proses belajar mengajaradalah:
a. Teknologi dapat digunakan untuk mengkaji kembali terhadap tujuan pengajaran, sehingga proses belajar-mengajar itu mengarah kepada pencapaian tujuan dan merealisasikan tujuan itu. Teknologi dapat mendorong kegairahan untuk mengembangkan sasaran-sasaran perilaku belajar-mengajar.
b. Teknologi dapat mengotomatiskan proses belajar melalui pengembangan sekuensi yang lebih teratur terhadap unsur-unsur suatu kegiatan atau pekerjaan. Ia juga dapat membantu guru mengadakan diagnosis kesulitan-kesuliatan belajar lebih cepat. Sementara murida ada yang mencapai kemajuan belajar lebih besar jika menggunakan media daripada hanya menggunakan buku-buku teks. Mesin-mesin dapat menyajikan konsep-konsep secara berulang kali denagn lebih besar kepada anak-anak murid yang lamban daripada gurunya.
c. Teknologi dapat mengerjakan hal-hal tertentu yang tak dapat dilakukan dengan cara lain. Misalnya belajar dengan cara simulasi dan bermain akan lebih berdampak situasioanal terhadap murid untuk mengembangkan hal-hal baru lewat teknologi computer.
d. Teknologi dapat pula memperkuat kegiatan penelitian dengan memungkinkan para peneliti untuk melakukan rangkaian perhitungan yang tak dapat dikerjakan dengan cara lain. Ia juag dapat memperbaiki kurikulum sehingga kesenjangan antara murid, guru dan penyusun bahan pelajaran dapat dijembatani. Juga teknologi dapat mensentralisasikan dan membakukan sejauh mana dampak teknologi terhadap proses belajar.
e. Teknologi membantu manjemen pengajaran secar rinci. Termasuk testing dan sistem pengukuran kemajuan murid, sehingga diketahui umpan baliknya secara dini dan lain-lain.
f. Teknologi juga dapat memberikan dampak positif terhadap penyuluhan kependidikan sebegitu besar karena conseling itu memerlukan banyak informasi yang memadai tentang murid. Juga kemampuan murid untuk meneliti dirinya sendiri mengenai bakat dan minatnya sebelum diteliti oleh ahli, akan banyak dibantu oleh kemampuan teknologi.
Prinsip-prinsip penyusunan pengajaran berprogram ialah:
a) Mengorganisasikan materi untuk dipelajari murid secar unit-unit yang terpisah, jelas bidangnya, serta relative lebih kecil unit-unit pelajrannya sehingga mudah dikelola.
b) Interaksi antar murid dengan unit-unit kecil pelajaran berlangsung secara bertahap.
c) Umpan balik belajar murid dapat segera diketahui untuk dikomuniaksikan dengan taraf penguasaan bahan pelajaran yang telah disajiakn kepada mereka.
d) Self-packing (memacu diri) secar bertahap dalam proses penguasaan bahan pelajaran.
Proses pendidikan Islam diterapkan ke dalam kegiatan belajar berprogramma ini, maka program-programnya harus dibagi-bagi menjadi unit-unit pelajaran yang terorganisasikan ke dalam sekuensi-sekuensi. Selanjutnya dikomputerisasikan oelh programmer yang dihubungkan dengan panel-panel yang terpasang di tiap belajar murid. Prinsip-prinsip pengembangan teknologi instruksioanal dapat digambarkan dengan pola pikir logis sesuai pola pikir ilmu manajemen yaitu suatu pemikiran yang teratur dan sistematis, konsisten dalam proses menuju ke arah tujuan yang telah ditetapkan.Oleh karena pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada program pengajaran ilmu-ilmu agama semata-mata, melainkan juga mencakup ilmu-ilmu pengetahuan umum lainnya, seperti telah dijelaskan oleh para ahli terdahulu. Ilmu-ilmu pengetahuan sains tersebut pernah dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam pada masa kejayaan Islam di Timur Tengah dan Spanyol pada abad 8 sampai abad 14.Untuk tujuan tersebut mereka menghendaki agar pendidikan Islam mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu duniawi dengan berbagai jenisnya. Dengan demikian, diharapkan umat Islam akan mampu mengembangkan daya intelektualnay yang sekaligus daya keimannanya sejalan dengan tuntutan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Dengan demikian maka di antara para ulama atau ilmuwan Islam menjadiakn pendidikan sebagai alat pembudayaan umat Islam dengan ilmu dan teknologi modern yang dilandasi dengan nilai-nilai agama Islam.Semua berpulang kepda masalah pendidikan yang berlangsung lama dalam memproses manusia-manusia berjiwa agama seperti yang telah dijelaskan.
1. Model Penyelenggaraan Pendidikan Menurut Manajemen Program
Jika kita melihat proses kependidikan dari segi menajemen maka harus direncanakann sesuai dengan sasaran-sasaran atau tujuan-tujuan yang hendak dicapai secara tepat. Perencanaan tersebut harus memperhitungkan sejauh mana efektivitas dan efesiennya dalam pelaksanaan. Ahli manajemen pendidikan Roger A. kaufmann membuat model-model proses pendidikan yang harus berlangsung secara mutlak melalui beberapa tahapan misalnya, mengadakan revisi atau perbaaikana terhadap sebagian atau keseluruhan lagkah-langkah(proses) yang sedang berlangsung guna menjamin agar proses tersebut dapat berjalan efektif dan efesien.
2. Model Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI)
PPSI adalah suatu system instruksional yang berorientasikan kepada tujuan pendidik atau pengajaran; di samping lebih mengutamakan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaannya. Pelaksanaan PPSI ini melalui 5 tahap sebagai berikut:
a. Lebih dahulu merumuskan tujuan-tujuan instruksional.
b. Menetapkan sarana evaluasi.
c. Menentukan kegiatan-kegiatan belajar dan bahan-bahan pelajaran (bidang studi).
d. Menetapkan rencana/program kegiatan.
e. Melaksanakan program tersebut, didahului dengan pretest, lalu menyajikan materi pelajaran, kemudian melakukan evaluasi belajar-mengajar (post-test) untuk mengetahui kemajuan belajar murid.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berlandaskan Islam.Isi ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan.Ilmu pendidikan Islam merupakan kumpulan teori tentang pendidikan berdasarkan ajaran Islam.Pendidikan menurut orang awam adalah mengajari murid di sekolah, melatih anak hidup sehat, dan lain-lain.Akan tetapi, untuk kepentingan ilmu, dalam hal ini ilmu pendidikan, perumusan definisi yang teliti tidak dapat dihindari.
Dalam Islam, dasar operasional segala sesuatu adalah agama, sebab agama menjadi frame atau gambaran bagi setiap aktifis yang bernuansa keislaman. Hakikat wujud yang lain ialah bahwa manusia adalah makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Dalam perkembangannya, manusia itu cenderung beragama inilah hakikat wujud yang lain.
Pendekatan selalu berkaitan dengan tujuan, metode dan teknik. Dalam proses pendidikan Islam, pendekatan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan. Pendidikan tidak akan efektif tidak melakukan pendekatan ketika menyampaikan suatu materi dalam proses belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Tafsir. 2010.Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam.Bandung:Rosda
Arifin, Muzayying. 2003. Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Muzayying. 2003. Edisi revisi.Ilmu pendidikan Islam.Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Muzayying. 2004. Ilmu pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Armai, Arief. 2012.Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta:Ciputat Pers.
Roqib. 2009.Ilmu Pendidikan Islam.Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang
Soebahar.Abdul Halim.2002.Wawasan Baru Pendidikan Islam.Jakarta: Penerbit Kalam Mulia.
Umar, Bukhari. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah.
Usman. 2004. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Rajawali Pers.


Komentar
Posting Komentar