Filsafat Yunani Kuno | Makalah
BAB III
FILSAFAT YUNANI KUNO
Berkembangnya mite-mite atau mitologi yang cukup luas di kalangan Bangsa Yunani dianggap sebagai salah satu sebab lahirnya filsafat. Awalnya manusia menggunakan mitos untuk menjawab pertanyaan tentang alam. Kemudian, manusia berupaya menemukan jawaban dengan cara terus berpikir tentang masalah yang dihadapinya, serta melakukan pengamatan terhadap segala sesuatu yang diduga dapat membantu memecahkan masalahnya. Berikut ini akan dibahas lebih rinci mengenai filsafat Yunani Kuno.
1. Sejarah Filsafat Yunani
Masa filsafat Yunani merupakan masa terpenting dalam sejarah peradaban manusia. Hal ini disebabkan karena pada saat itu terjadi perubahan pola pikir mitosentris. Mitosentris yaitu pola pikir yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam. Orang Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai kepercayaan bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai sesuatu yang bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng, yang berarti suatu kebenaran lewat akal pikir atau logis tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber dari mitos belaka yaitu dongeng-dongeng (Muzairi, 2009: 41-42).
Muzairi (2009: 41-42), menyatakan bahwa pada abad ke-6 SM, mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Sejak saat itu, orang-orang mulai mencari jawaban rasional tentang permasalahan yang di tampakkan oleh alam semesta kepada manusia saat itu, dimana saat itu timbullah sejumlah ahli pikir yang menentang dengan adanya mitos-mitos yang banyak terjadi. Sejumlah pemikir ini menginginkan semua pertanyaan yang timbul dari alam semesta ini memiliki jawaban yang dapat diterima oleh akal dan pikiran atau disebut dengan rasional.
Upaya para ahli pikir untuk mengarahkan pada suatu kebebasan berpikir ini telah menyebabkan orang-orang untuk mencoba membuat sebuah konsep yang didasari dengan kekuatan akal atau pikiran secara murni, tidak lagi mengedepankan mitos belaka. Maka, dari kejadian tersebut timbullah peristiwa ajaib yang dimana-mana buku filsafat menyebutkan peristiwa tersebut dengan nama “The Greek Miracle” yang artinya, dapat nantinya dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas, tentu pada filsafat Yunani ini adanya pengubahan pola pikir dari mitos menjadi pola pikir mengenai alam semesta yang dapat diterima oleh akal atau rasio tidak lagi berdasar atas mitos-mitos.
2. Faktor-faktor Lahirnya Filsafat Yunani
Menurut Khotim (2011), mengatakan bahwa faktor lahirnya filsafat Yunani ini, diantaranya yaitu sebagai berikut:
a. Bangsa Yunani yang kaya akan mitos atau dongeng, dimana mitos dianggap sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Mitos-mitos atau dongeng tersebut kemudian disusun secara sistematis yang untuk sementara kelihatan masuk akal atau rasional sehingga muncul mitos yang selektif dan rasional.
b. Karya sastra Yunani yang dianggap sebagai pendorong kelahiran filsafat Yunani, seperti karya puisi Homeros yang berjudul Ilias dan Odyssea mempunyai kedudukan yang istimewa dalam karya sastra Yunani. Bahkan dalam jangka waktu yang cukup lama, karya tersebut dijadikan sebagai semacam buku pedoman bagi bangsa Yunani.
c. Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di lembah sungai Nil, kemudian berkat kemampuan dan kecakapannya ilmu-ilmu tersebut dikembangkan sehingga mereka mempelajarinya tidak didasarkan pada aspek praktis saja, tetapi juga aspek teoritis kreatif. Di sinilah letak kecerdasan bangsa Yunani, yang mampu mengolah kembali ilmu pengetahuan dari timur dengan begitu ilmiah.
Dengan adanya ketiga faktor tersebut, kedudukan mitos digeser oleh logos (akal), sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir. Periode Yunani Kuno ini lazim disebut periode filsafat alam. Dikatakan demikian, karena pada periode ini ditandai dengan munculnya para ahli pikir alam, dimana arah dan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati sekitarnya. Mereka membuat pertanyaan-pertanyaan tentang gejala alam yang bersifat filsafati (berdasarkan akal pikir) dan tidak berdasarkan pada mitos. Mereka mencari asas yang pertama dari alam semesta (arche) yang sifatnya mutlak, yang berada di belakang segala sesuatu yang serba berubah (Muzairi, 2009: 42).
3. Periode Filsafat Yunani Kuno
Faizal (2015) mengatakan bahwa, periode Yunani Kuno ini disebut dengan periode filsafat alam, disebut demikian karena pada periode ini telah ditandai dengan banyaknya muncul para ahli pikir tentang alam, dimana seluruh arah dan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati pada keadaan alam sekitarnya. Para pemikir ini membuat sejumlah pernyataan-pernyataan tentang gejala alam yang bersifat filsafati, yaitu berdasarkan akal pikir dan tidak berdasarkan pada mitos atau dongeng-dongeng.
Yunani pada masa itu di anggap sebagai gudang ilmu dan filsafat, karena bangsa Yunani pada masa itu tidak lagi mempercayai hal-hal yang berbau mitos-mitos. Bangsa Yunani ini juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima begitu saja, namun mereka menumbuhkan sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis. Sikap ini lah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis dan tidak mudah untuk menerima inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa.
Pemerintahan Yunani Kuno sering di sebut sebagai cikal bakal pemerintahan demokratis, ini dapat di pahami karena di Negara ini menerapkan kehidupan sosial politik yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Setiap warga negara memiliki otonomi dalam bidang hukum dan memiliki kemerdekaan politik untuk mengemukakan pendapat.
b. Ada negara-negara bagian yang disebut polis, kondisi polis pada saat itu sangat kondusif untuk perkembangan intelektual
4. Tokoh-tokoh Filosof Yunani Kuno
Adapun tokoh-tokoh filosof pada masa Yunani Kuno yaitu sebagai berikut:
a. Pythagoras (580-570 SM)
Pythagoras adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang paling dikenal melalui teoremanya yakni teorema Phytagoras. Pythagoras lahir di Samos antara tahun 580 dan 570 SM. Ia menetap di Trotona dan di sinilah ia mendirikan mazhab Pythagoras. Filsafah pemikiran Pythagoras sangat matematis sehingga ia dikenal sebagai ‘’Bapak Bilangan’’ yang memberikan sumbangan penting terhadap filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad ke-6 SM. Karena banyak diilhami oleh rahasia angka-angka. Ia tidak memikirkan substansi yang menjadi alam. Ia beranggapan bahwa dari segala sesuatu adalah angka. Segala sesuatu dalam alam raya tidak tertentu dan tidak menentu, segala hal yang telah memiliki batas bentuk dan angka akan menjadi tentu dan pasti (Surajiyo, 2007).
Pythagoras mendirikan sebuah tarekat beragama yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘’Kaum Phytagorean’’. Kaum Phytagorean sangat berjasa dalam meneruskan pemikiran-pemikiran Pythagoras. Semboyan mereka yang terkenal adalah ‘’authos epha, ipse dixit’’ yang berarti dia sendiri yang telah mengatakan demikian. Mereka mengganggap filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai jalan hidup, sarana supaya setiap orang menjadi tahir, sehingga luput dari perpindahan jiwa terus-menerus (Kurniawati, 2014).
Berdasarkan pernyataan di atas maka dapat ditegaskan bahwa Phytagoras merupakan filsuf Yunani Kuno tersebut pada zaman sekarang ini telah banyak diketahui dalam ilmu pengetahuan terutama dalam bidang ilmu alam terutama matematika.
b. Anaximanes (560-520 SM)
Menurut Achmadi (2006), mengatakan bahwa Anaximanes lahir sekitar 560-520 SM. Anaximanes adalah murid Anaximandros yang secara substansial pemahamannya tentang alam tidak berbeda dengan gurunya. Ia berpendapat bahwa prinsip yang merupakan asal-usul segala sesuatu yaitu udara. Karena udara merupakan bahan dasar yang membentuk semua benda yang ada dalam alam semesta. Jika kumpulan udara sangat banyak maka ia berubah bentuk menjadi awan atau sesuatu yang dapat dipandang oleh mata, jika basah maka ia menjadi air hujan, dan jika awan menjadi semakin padat, maka ia menjadi tanah atau batu atau bahkan badan manusia. Menurutnya jiwa menjamin kesatuan tubuh kita demikianpun udara meliputi segala-galanya. Jiwa sendiri juga tidak lain dari udara saja yang dipupuk dengan bernafas.
Oleh sebab itu, ia merupakan yang pertama yang berpikir persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Pandangan tersebut didasarkan pada alasan sebagai berikut:
1) Udara terdapat dimana-mana, dunia itu diliputi oleh udara, tidak ada satu ruanganpun tidak terdapat udara didalamnya maka udara itu tidak ada habisnya.
2) Keistimewaan udara yaitu senantiasa bergerak oleh karena itu udara memegang peranan yang penting dalam berbagai perubahan dalam alam ini.
3) Udara adalah unsur kehidupan karena tak ada sesuatupun yang hidup tanpa udara.
Menurut Tafsir (2009) mengungkapkan pula mengenai terjadinya alam ini semuanya terjadi karena udara. Gerak udaralah yang menjadi sebabnya. Jika udara jarang maka terjadilah api. Jika rapat terjadilah angin dan awan, jika udara bertambah rapat lagi turunlah hujan dari awan itu.
Demikianlah, karena filsafat mereka memfokuskan diri pada kejadian dan gejala alam semesta, maka filsafat mereka disebut dengan filsafat alam. Thales mengasalkan bahwa penciptaan alam ini bersumber dari air, anaximandros pada to apeiron, dan Anaximenes pada udara.
c. Xenophanes (545 SM)
Xenophanes merupakan pengikut Aliran Pythagoras yang lahir di Kolophon, Asia Kecil, sekitar tahun 545 SM. Dalam filsafatnya ia menegaskan bahwa Tuhan bersifat kekal, tidak mempunyai permulaan dan Tuhan itu Esa bagi seluruhnya. Ke-Esaan Tuhan bagi semua merupakan sesuatu hal yang logis. Hal itu karena kenyataan menunjukkan apabila semua orang memberikan konsep ketuhanan sesuai dengan masing-masing orang, maka hasilnya akan bertentangan dan kabur. Bahkan “kuda menggambarkan Tuhan menurut konsep kuda, sapi demikian juga” kata Xenophanes. Jelas kiranya ide tentang Tuhan menurut Xenophanes adalah Esa dan bersifat universal (Surajiyo, 2007).
Xenophanes dari Kolophon adalah seorang filsuf yang termasuk ke dalam Mazhab Elea. Menurut tradisi filsafat Yunani, ia adalah pendiri Mazhab Elea dan guru dari Parmenides.Selain sebagai filsuf, ia terkenal sebagai seorang penyair. Pemikiran-pemikiran filsafatnya disampaikan melalui puisi-puisi. Selain tema-tema filsafat, ia menulis puisi dengan tema-tema tradisional, seperti cinta, perang, permainan, dan sejarah. Ia juga berani mengkritik Homeros dan Hesiodos, penyair Yunani yang terkenal pada waktu itu. Karya filsafatnya dalam bentuk puisi telah hilang. Pada masa kemudian, karya itu diberi nama "Perihal Alam" (Concerning Nature) (Wikipedia, 2017).
Berdasarkan pendapat di atas, maka pemikiran dari Xenophanes itu menghasilkan pemikiran bahwa Tuhan itu bersifat kekal, Tuhan tidak mempunyai permulaan dan Tuhan itu Esa.
d. Heraclitus (560-470 SM)
Heraclitus lahir antara tahun 560-470 SM di Epesus yaitu sebuah kota perantauan di Asia Kecil. Heraclitus sekawan dengan Pythagoras dan Xenophanes akan tetapi ia lebih tua. Heraclitus mendapat julukan si gelap karena untuk menulusuri gerak pemikirannya sangat sulit. Hanya dengan melihat fragmen-fragmennya, ia mempunyai kesan hati yang tinggi dan sombong sehingga ia mudah mencela kebanyakan manusia untuk mengatakan jahat dan bodoh, juga mencela orang-orang yang terkemuka di Yunani (Tafsir, 2009).
Menurut Heraclitus, alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah, sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Itu berarti kita hendak memahami kehidupan kosmos, kita mentaati dan menyadari bahwa kehidupan kosmos itu dinamis. Kosmos itu tidak pernah berhenti atau statis (diam), namun ia selalu bergerak, dan bergerak berarti berubah. Gerak itu menghasilkan perlawanan-perlawanan. Itulah sebabnya ia sampai kepada kesimpulanbahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah stuff seperti yang dipertanyakan oleh para filosof yang pertama itu, melainkan prosesnya. Penyataan “semua mengalir” berarti semua berubah bukanlah pernyataan yang sederhana. Implikasi pernyataan tersebut amat hebat. Dan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah, tidak tetap. Misalnya pengertian adil pada hari ini belum tentu besok masih benar. Hari ini 2x2=4 namun besok juga bisa bukan empat hasilnya. Pandangan ini merupakan warna dasar flsafat sofisme.
Menurut pendapatnya, di alam arche terkandung sesuatu yang hidup (seperti roh) yang disebut sebagai logos (akal atau semacam wahyu). Logos inilah yang menguasai sekaligus mengendalikan keberadaan segala sesuatu. Hidup manusia akan selamat sesuai dengan logos (Tafsir, 2009).
e. Parmenides (540 SM)
Parmenides adalah seorang filsuf dari Mazhab Elea. Arti nama Parmenides adalah "Terus Stabil", atau "Penampilan yang stabil". Di dalam Mazhab Elea, Parmenides merupakan tokoh yang paling terkenal. Parmenides dilahirkan di kota Elea, Italia Selatan. Ia lahir sekitar tahun 540 SM. Dalam kota tempat lahirnya ia dikenal sebagai orang besar. Ia ahli politik dan pernah memangku jabatan pemerintahan. Ia dikenal oleh orang banyak sebagai ahli pikir yang melebihi siapapun juga pada masanya (Hatta, 2006: 21).
Parmenides merupakan logikawan pertama dalam pengertian modern. Sistemnya secara keseluruhan disandarkan pada deduksi logis, tidak seperti Heraclitus, yang menggunakan intuisi. Menurut penuturan Plato, pada usia 65 tahun ia bersama Zeno berkunjung ke Athena untuk berdialog dengan Socrates yag masih muda. Karya-karyanya berupa puisi (Tafsir, 2009: 49).
Salah satu tulisan Parmenides yang terkenal yaitu “On Nature”, sebuah puisi didaktik yang terdiri dari tiga bagian. Ketiga bagian tersebut adalah:
a) Proem, yang merupakan pengantar bagi keseluruhan naskah tersebut.
b) Aletheia, yang dikenal sebagai ‘‘Jalan Kebenaran’’ (The Way of Truth) dan merupakan wacana filosofis.
c) Doxa, yang dikenal sebagai ‘Jalan Pendapat’ (The Way of Appearance/Opinion), yang merupakan pengungkapan gejala alam. Dario Composta menyebutkan bagian ini sabagai ‘Pandangan’ atau yang dalam zaman kita disebut ‘Persepsi’ (Kusumohamidjojo, 2012: 74).
Karya Parmenides sangat pelik sehingga terdapat banyak interpretasi terhadap karya-karyanya. Berikut ini salah satu contoh tulisannya tentang ‘Jalan Kebenaran’;
“Engkau tak dapat mengetahui sesuatu yang tak ada ataupun mengutarakannya; sebab sesuatu yang dipikirkan dan seuatu yang ada adalah sama. Lantas, bagaimanakah sesuatu yang ada sekarang akan menjadi sesuatu di saat mendatang? Atau bagaimana ia menjadi ada? Jika sesuatu itu menjadi ada, sesuatu itu tidak ada; begitu pula jika sesuatu itu menjadi sesuatu di saat mendatang, maka menjadi ada itu tidak ada dan menjadi menjadi tak ada itu tak perlu dihiraukan” . “Sesuatu yang dapat dipikirkan dan karena sesuatu itu pikiran ada adalah sama. Karena engkau tak dapat menemukan pemikiran tanpa sesuatu yang ada, yang karena itu bisa diutarakan.” (Andra, 2015).
Menurut Achmadi (2006: 40), bahwa Parmenides kagum dengan adanya misteri segala realitas yang ada. Di situ ia menemukan berbagai kenyataan, dan ditemukan pula adanya hal yang tetap dan berlaku secara umum. Sesuatu yang tetap dan berlaku umum itu tidak dapat ditangkap melalui indra, tetapi mampu ditangkap melalui pikiran atau akal. Untuk memunculkan realitas tersebut hanya dengan berpikir.
Untuk mencapai kebenaran, kita tak dapat berpedoman dengan penglihatan yang menampakan kita kepada ‘yang banyak’ dan ‘yang berubah-ubah’. Hanya akal yang dapat mengatakan, bahwa ‘Yang Ada’ itu mesti ada, serta mengakui bahwa ‘yang tidak ada’ itu mustahil ada (Hatta, 2006: 23).
‘Yang Ada’ itu ada, ‘Yang Ada’ itu tidak dapat hilang menjadi tidak ada, dan ‘yang tidak ada’ tidak mungkin muncul menjadi ‘Yang Ada’, ‘yang tidak ada’ adalah tidak ada, sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan (Achmadi, 2006: 40).
Setelah berargumentasi mengenai ‘Yang ada’ sebagai kebenaran, Parmenides juga menyatakan konsekuensi-konsekuensinya: Pertama, ‘Yang Ada’ adalah satu dan tak terbagi, sedangkan pluralitas tidak mungkin. Hal ini dikarenakan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan ‘Yang Ada’. Kedua, ‘Yang Ada’ tidak dijadikan dan tidak dapat dimusnahkan.Dengan kata lain, ‘Yang Ada’ bersifat kekal dan tak terubahkan.Hal itu merupakan konsekuensi logis, sebab bila ‘Yang Ada’ dapat berubah, maka ‘Yang Ada’ dapat menjadi tidak ada atau ‘yang tidak ada’ dapat menjadi ada. Ketiga, harus dikatakan pula bahwa ‘Yang Ada’ itu sempurna. Tidak ada sesuatu yang dapat ditambahkan padanya dan tidak ada sesuatu yang dapat diambil dari padanya. Keempat, karena ‘Yang Ada’ mengisi semua tempat, maka disimpulkan bahwa tidak ada ruang kosong. Jika ada ruang kosong, artinya menerima bahwa di luar ‘Yang Ada’ masih ada sesuatu yang lain (Bertens, 1975: 48).
Dalam the way of truth, Parmenides berpendapat bahwa "standar kebenaran ukurannya adalah logika yang konsisten". Jadi, benar-tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika (Tafsir, 2009: 50).
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan; yang ada itu ada, yang ada tidak dapat hilang menjadi tidak ada, dan yang tidak ada tidak mungkin muncul menjadi ada, yang tidak adalah tidak ada, sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan adalah hanyalah yang ada saja sedangkan yang tidak ada tidak dapat dipikirkan. Jadi, yang ada (being) itu satu, umum, tetap dan tidak dapat dibagi-bagi. Karena membagi yang ada akan menimbulkan atau melahirkan banyak ada, dan itu tidak mungkin. Yang ada dijadikan dan tidak dapat musnah. Yang ada di segala tempat, oleh karenanya tidak ada ruangan yang kosong , maka di luar yang ada masih ada sesuatu yang lainya.
f. Zeno (490 SM)
Zeno lahir di Elea pada tahun 490 SM. Ia adalah murid setia Parmenides yang paling cerdas. Ia membela gurunya dalam perdebatan dengan Heraklitus. Sebagai murid dari Parmenides ia dengan gigihnya mempertahankan ajaran gurunya dengan cara memberikan argumentasi secara baik. Sehingga di kemudian hari dianggap sebagai peletak dasar dialektika. Dia mencoba membuktikan bahwa gerak adalah suatu khayalan, dan bahwa tiada kejamakan serta tiada ruang kosong. Ada bermacam-macam alasan yang dikemukakan untuk membuktikan bahwa gerak adalah suatu khayalan. Menurutnya gerak atau perubahan tidak mungkin. Ia mengajukan beberapa pemikiran penting tentang :
1) Argumentasi melawan gerak ( perubahan)
2) Argumentasi melawan pluralitas
3) Argumentasi melawan ruang
Zeno mulai mengemukakan suatu hipotesa, yaitu salah satu anggapan yang dianut oleh pelawan-pelawan Parmenides. Lalu ia menunjukan dari hipotesa itu harus ditarik kesimpulan-kesimpulan yang mustahil. Jadi, hipotesa semula tidak benar. Itu berarti bahwa kebalikannya harus dianggap benar. Menurut metode ini, Zeno membuktikan bahwa adanya ruang kosong, pluralitas, dan gerak sama-sama mustahil (Bertens, 1975: 50).
Zeno dengan pembuktian-pembuktiannya ialah :
1) Bahwa Akhilles, pelari termasyhur Yunani, tidak akan pernah dapat mengejar seekor kura-kura yang berjalan di depanya dalam jarak tertentu, sebab setiap kali Akhilles samapi di tempat kura-kura mulai berjalan, kura-kura itu sudah meninggalkan tempat startnya. Demikian itu terjadi terus menerus,akibatnya Akhilles tidak pernah dapat mengejar kura-kura itu. Bukti yang lain ialah, bahwa sebuah anak panah yang dilepaskan dari busurnya sebenarnya tidak bergerak, melainkan setiap saat berhenti. Hanya kelihatanya saja bergerak. Argumentasi Zeno ini selama 20 abad lebih tidak dapat terpecahkan secara logis. Baru dapat di pecahkan setelah para ahli matematika membuat pengertian limit dari seri tak terhingga.
2) Untuk membuktikan bahwa tiada kejamakan, Zeno mengungkapkan, bahwa seandainya ada kejamakan, sepotong garis dapat dibagi-bagi, yang tiap bagianya paling sedikit terdiri dari dua titik, yaitu titik pangkal dan titik ujungnya. Bagian ini, karena memiliki jarak antara titik pangkal dan titik ujung, tentu dapat dibagi-bagi lagi, yang bagianya terdiri lagi dari dua titik, yaitu titik pangkal dan titik ujung. Demikianlah pembagian itu dapat terus menerus dilakukan, sebab setiap bagian senantiasa terdiri dari paling sedikit dua titik yang terpisah oleh suatu jarak. Pembagian ini dalam kenyataanya tidak mungkin. Oleh karenanya harus disimpulkan, bahwa kejamakan tidak ada.
3) Untuk membuktikan bahwa tiada ruang kosong, Zeno mengemukakan, bahwa seandainya ada ruang kosong, ruang kosong itu tentu mengambil tempat dalam ruang yang lain, dan ruang yang lain itu mengambil tempatnya lagi dalam ruang yang lain. Demikian seterusnya, maka harus disimpulkan, bahwa runag kosong tidak ada (Achmadi, 2006: 44-46).
Dengan demikian, Zeno menegaskan bahwa kejamakana itu tidak ada dan gerak tersebut merupakan suatu khayalan.
g. Empedokles (490-435 SM)
Menurut Bertens (1975:54), bahwa Empedokles lahir sekitar (490-435 SM) di Akragas di pulau Sisilia pada awal abad ke-5. Ia termasuk golongan bangsawan. Ia sangat dipengaruhi oleh ajaran kaum Pythagoran, Parmenidaes, dan aliran keagamaan refisme. Ia pandai dalam bidang kedokteran, penyair retorika, politik, dan pemikir. Ia menulis dalam bentuk puisi, seperti Parmenides. Hasil karyanya dituangkan dalam bentuk syair, yaitu tentang alam dan tentang penyucian, atau suatu pemikiran filsafati tentang alam dan suatu buah pikiran yang bersifat mistis-keagamaan.
Dalam pemikirannya, ia setuju dengan pendapat Parmenides bahwa alam semesta tiada sesuatu pun yang dilahirkan sebagai hal yang baru dan dapat dibinasakan sehingga tiada lagi. Demikian juga ia setuju dengan bahwa tiada ruang kosong. Akan tetapi ia menentang bahwa kesaksian indra adalah palsu. Memang pengamatan yang dengan indera menunjukan hal yang jamak, yang berubah, akan tetapi bentuk kenyataan yang bermacam-macam itu hanya disebabkan karena penggabungan dan pemisahan keempat unsur yang menyusun segala kenyataan. Keempat unsur itu adalah air, udara, api dan tanah. Keempat unsur itu mempunyai kualitas yang sama. Yaitu tidak berubah-ubah. segala yang ada terdiri dari keempat unsur itu. Setiap benda berasal dari empat unsur tersebut. Komposisi unsur-unsur yang berbeda tentu menghasilkan benda-benda yang berbeda pula (Achmadi, 2006: 46-49).
Proses penggabungan dan pemisahan unsur itu diatur oleh dua kekuatan yang saling berlawanan, yaitu cinta (filotes) dan benci (neikos), cinta menggabungkan, sedang benci menceraikan. Dengan demikian keduanya dipandang sebagai cairan halus yang meresapi semua benda. Dengan demikian segala sesuatu dipandang sebagai bersifat bendawi. Semula keempat unsur itu digabungkan dalam suatu keselarasan cinta, akan tetapi benci berusaha menceraikan keempatnya tersebut, sehingga muncul pengelompokan 4 zaman Empedokles yang belangsung terus-menerus, silih-berganti,dan kembali lagi kepada yang pertama, tiada henti-hentinya. Keempat zaman tersebut ialah :
1) Zaman dimana cinta yang dominan. Alam semesta bagaikan bola, yang semua unsurnya tercampur secara sempurna dan benci tersisih ke ujung
2) Zaman yang mana unsur-unsur yang tercampur sempurna tadi mulai diceraikan,sehingga sebagian mulai dikuasai benci
3) Zaman tercerainya empat unsur secara sempurna, sehingga benci berdominan
4) Zaman yang mana cinta mulai meresap dalam kosmos. Zaman ini sejajar dengan yang kedua, yang diakhiri dengan dominasi cinta. Tetapi proses ini belum selesai. Kembalilah zaman yang pertama di mulai dan seterusnya.
Dalam perkembanganya sehingga muncul teori pengenalan : yang sama mengenal yang sama, karena anasir tanah yang ada pada manusia itulah manusia mengenal tanah,air dan sebagainya (Achmadi, 2006: 46-49).
h. Anaxagoras (500-428 SM)
Anaxagoras (500-428 SM) lahir di kota Klazomenai, Lonia, sekitar tahun 500 SM. Pada tahun 480 SM, Anaxagoras meninggalkan kota asalnya dan menetap di Athena. Ia tinggal di Athena selama kurang lebih 30 tahun. Dengan demikian Anaxagoras menjadi filsuf pertama yang berkarya di Athena, dimana kemudian hari Athena inilah menjadi pusat perkembangan filsafat Yunani sampai pada abad ke-2 SM. Di Athena, Anaxagoras berteman dengan Pericles, seorang politikus terkenal di Athena. Selain itu, disebutkan pula bahwa Euripides, dramawan tersohor kesusasteraan Yunani, adalah murid Anaxagoras (Bertens, 1975:58).
Anaxagoras adalah salah seorang filsuf dari mazhab pluralisme. Filsuf lain yang tergolong di dalam mazhab ini adalah Empedokles. Anaxagoras, sebagaimana Empedokles, mengajarkan bahwa realitas alam semesta berasal dari banyak prinsip. Anaxagoras hidup sezaman dengan Empedokles dan juga para filsuf atomis awal, seperti Leukippos dan Demokritos. Anaxagoras diketahui mengarang satu buku dalam bentuk prosa
Ketika Pericles telah berusia lanjut, musuh-musuhnya berhasil memfitnah Anaxagoras dengan tuduhan murtad. Kemudian Anaxagoras di ajukan ke pengadilan dan diancam hukuman mati.Tampaknya Anaxagoras difitnah karena ia menganggap matahari adalah batu yang berpijar dan bulan adalah tanah, yang hanyalah benda-benda material semata. Bukan Dewa seperti apa yang menjadi kepercayaan masyarakat pada saat itu. Atas jasa Paricles, ia dibebaskan dari penjara dan melarikan diri ke kota Lampsakos. Anaxagoras meninggal di sana pada usia 72 tahun (Bertens, 1975: 58).
Adapun pemikiran-pemikiran dari Anaxagoras di antaranya, yaitu:
1. Tentang Benih-Benih sebagai Prinsip Alam Semesta
Anaxagoras sama seperti Empedokles yang menyatakan bahwa prinsip dasar yang menyusun alam semesta tidaklah tunggal, namun mereka berbeda di dalam jumlahnya. Empedokles menyatakan bahwa hanya ada 4 zat yang menjadi prinsip alam semesta, sedangkan Anaxagoras menyatakan bahwa jumlah prinsip tersebut tak terhingga. Zat-zat tersebut disebutnya "benih-benih" (spermata). Menurut Anaxagoras, setiap benda, bahkan seluruh realitas di alam semesta, tersusun dari suatu campuran yang mengandung semua benih dalam jumlah tertentu. Indera manusia tidak dapat menyerap semua benih yang ada di dalam satu benda, melainkan hanya benih yang dominan (Anonim, 2013).
2. Tentang Nous
Jikalau Empedokles menyatakan ada dua prinsip yang menyebabkan perubahan-perubahan dari zat-zat dasar, yakni "cinta" dan "benci", maka Anaxagoras menyatakan hanya ada satu prinsip yang mendorong perubahan-perubahan dari benih-benih tersebut, yakni nous. Nous berarti "roh" atau "rasio". Ia tidak tercampur dengan benih-benih dan terpisah dari semua benda, namun menjadi prinsip yang mengatur segala sesuatu.
Anaxagoras mengemukakan yang menyebabkan benih-benih menjadi kosmos adalah nus yang berarti roh atau rasio, tidak tercampur dengan benih-benih dan terpisah dari semua benda. Oleh karena ajrannya tentang nus inilah Anaxagoras untuk pertama kalinya dalam filsafat dikenal adanya perbedaan antara jasmani dan yang rohani (Faizal, 2015).
3. Tentang Alam Semesta
Ajaran Anaxagoras tentang alam semesta mirip dengan filsuf-filsuf pertama dari Ionia, khususnya Anaximenes. Anaxagoras berpendapat bahwa badan-badan jagat raya terdiri dari batu-batu yang berpijar akibat kecepatan tinggi dari pusaran angin yang menggerakkannya (Faizal, 2015).
4. Tentang Makhluk Hidup
Anaxagoras adalah filsuf pertama yang membedakan secara jelas antara makhluk hidup dengan yang tidak hidup. Dikatakan bahwa nous memang menguasai segala-galanya, namun tidak ada di dalam makhluk yang tidak hidup, termasuk tumbuh-tumbuhan (Anonim, 2013).
5. Tentang Pengenalan
Berbeda dari Empedokles yang menyatakan bahwa yang sama mengenal yang sama, menurut Anaxagoras prinsip pengenalan justru yang berlawanan mengenal yang berlawanan. Argumentasi yang diberikan olehnya adalah pengenalan inderawi manusia yang disertai rasa nyeri, misalnya bila tangan meraba air panas, atau mata melihat benda yang terlalu terang (Faizal, 2015).
i. Demokritos (460-370 SM)
Demokritos lahir di kota Abdera, di pesisir Thrake di Yunani Utara. Ia hidup sekitar tahun 460 SM hingga 370 SM. Ia berasal dari keluarga kaya raya. Demokritos adalah seorang filsuf yang termasuk di dalam Mazhab Atomisme. Ia adalah murid dari Leukippos. Demokritos juga belajar kepada Anaxagoras dan Philolaos. Ia mengembangkan pemikiran tentang atom. Demokritos menulis tentang ilmu alam, astronomi, matematika, sastra, epistemologi, dan etika. Sehingga dia dipandang sebagai seorang sarjana yang menguasai banyak bidang (Hatta, 2006)
Pemikirannya, bahwa realitas bukanlah satu, tetapi terdiri dari banyak unsur dan jumlahnya tak terhingga. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian materi yang sangat tidak dapt dibagi-bagi lagi. Unsur tersebut dikatakan sebagai atom yang berasal dari satu dari yang lain karena ini tidak dijadikan dan tidak dapat dimusnahkan, tidak berubah dan tidak berkualitas (Tafsir, 2009)
Menurut pendapatnya, atom-atom itu selalu bergerak, berarti harus ada ruang yang kosong. Sebab satu atom hanya dapat bergerak dan menduduki satu tempat saja. Sehingga Democratos berpendapat bahwa realitas itu ada dua, yaitu: atom itu sendiri (yang patuh) dan ruang tempat atom bergerak (kosong) (Hatta, 2006).
Dengan begitu, Demokritos pun membedakan adanya dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan indera yang keliru dan pengetahuan budi yang sebenarnya.”Ada dua pengetahuan katanya, pengetahuan yang sebenarnya dan pengetahuan yang tidak sebenarnya. Adapun yang tidak sebenarnya adalah penglihatan, penciuman, rasa” .
j. Thales (624 – 546 SM)
Nama Thales muncul atas penuturan sejarawan Herodatus pada abad ke-5 SM. Thales sebagai salah satu dari tujuh orang yang bijaksana (Seven Wise Men of Greece). Aristoteles memberikan gelar The Father of Filoshopy. Salah satu jasanya yang besar adalah meramal gerhana matahari pada tahun 585 SM.
Thales berpendapat bahwa dasar pertama atau intisari alam ialah air. Thales mengembangkan filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar dan struktur komposisi daria alam semesta. Sebagai ilmuwan pada masa itu ia mempelajari magnetisme dan listrik yang merupakan pokok soal fisika. Juga mengembangkan astronomi dan matematika dengan mengemukakan pendapat, bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari. Dengan demikian, Thales merupakan ahli matematika yang pertama dan juga The Father of Deductive reasoning (bapak penalaran deduktif) (Poedjawijatna, 1980: 19).
Walaupun pandangan–pandangan Thales benyak yang kurang jelas, akan tetapi pendapatnya merupakan percobaan pertama yang masih sangat sederhana dengan menggunakan rasio (akal pikiran).
B. Sumbangan Filsafat Yunani Kuno Terhadap Perkembangan Ilmu
Peradaban Yunani Kuno yang sampai sekarang masih dijadikan sebagai disiplin ilmu yaitu peradaban ilmu yang diwariskan untuk dunia yang sangat penting untuk diketahui bahkan dipelajari dalam perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini. Kita akan mampu memahami itu semua apabila memahami dulu tentang peradaban ilmu yang ada pada masa Yunani Kuno.
Menurut Abidin (2011:82) zaman Yunani Kuno merupakan zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Selanjutnya, tumbuhlah sikap kritis yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir yang terkenal dan sikap kritis ini lah yang menjadikan cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern yaitu sikap an inquiring (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis).
Adapun sumbangan filsafat Yunani Kuno terhadap ilmu pengetahuan adalah:
1. Ilmu Filsafat
Masa Yunani Kuno merupakan awal terbentuknya ilmu filsafat. Tokoh yang berpengaruh adalah Thales (625-546 SM). Thales gelar sebagai bapak filsafat karena Ia adalah orang yang mula-mula berfilsafat. Hasil pemikiran Thales yang terkenal adalah berpendapat bahwa dasar pertama atau intisari alam ialah air. Thales mengembangkan filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar dan struktur komposisi dari alam semesta. Sebagai ilmuwan pada masa itu ia mempelajari magnetisme dan listrik yang merupakan pokok soal fisika. Juga mengembangkan astronomi dan matematika dengan mengemukakan pendapat, bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari.
2. Ilmu Matematika
Salah satu peninggalan filosof Yunani Kuno lainnya adalah Pythagoras yang menyumbang pemikirannya yakni‘’Teorema Pythagoras‘’. Selain itu, dalam ilmu ukur dan aritmatika ia berhasil menyumbang teori tentang bilangan, pembentukan benda, dan menemukan antara nada dengan panjang dawai.
Selain sebagai penggagas filsafat bilangan, Pythagoras juga dikenal baik sebagai penemu hukum geometri atau teorema yang berguna untuk menentukan panjang sisi miring dalam segitiga. Teorema Pythagoras menyatakan bahwa jumlah luasbujur sangkar pada kaki sebuah segitiga siku-siku sama dengan luas bujur sangkar di hipotenus. Jika sebuah segitiga siku-siku mempunyai kaki dengan panjang a dan b dan hipotenus dengan panjang c, maka a+ b' = c. Panjang sisi miring (hipotenusa) pada segitiga siku-siku menurut teorema Pythagoras ditentukan oleh perhitungan akar dari penjumlahan hasil kuadrat dari kedua sisi yang lain. Teorema yang sederhana ini berlaku umum dan menjadi dasar perkembangan geometri Non-Euclid. Teorema Pythagoras ini juga menjadi inspirasi awal baik bagi Einstein dalam menyusun teori relativitas umum maupun bagi seluruh fisika modern yang mencoba menyusun teori terpadu melalui manifestasi ruang-waktu geometri (Heryani, 2012).
3. Ilmu Psikologi
Tokoh yang berpengaruh adalah Socrates (470-399 SM). Ia merupakan orang pertama di dunia yang mengemukakan bahwa di dalam diri manusia terdapat jiwa atau rohani. Ia menyadari bahwa jiwa jauh lebih penting daripada tubuh fisik dan jiwa tidak akan mati. Karena penemuannya inilah, banyak orang menganggapnya sebagai bapak psikologi rasional.
4. Ilmu Kimia
Democristus dikenal sebagai Bapak Atom karena jasanya yang telah memperkenalkan konsep atom. Akibat dari pemikirannya itu mengenai atom maka lahirlah konsep-konsep sebagai berikut:
a) Konsep materialistis-monistik yaitu atom merupakan sekedar materi yang tidak didampingi apapun karena disekelilingnya hampa.
b) Konsep dinamika perkembangan yaitusegala sesuatu selalu berada dalam keadaan bergerak sehingga berlaku prinsip dinamika.
c) Konsep murni alamiah yaitu pergerakan atom itu bersifat intrinsic, primer, tanpa sebab, dan tidak dipengaruh oleh sesuatu diluar dirinya.
5. Ilmu Metafisika, Logika dan Biologi
Tokoh yang berpengaruh adalah Aristoteles (384-322 SM). Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Selain itu ada pula Anaximanes bahwa jiwa manusia dipandang sebagai kumpulan udaras aja. Buktinya, manusia perlu bernapas untuk mempertahankan hidupnya.
Rangkuman
1. Zaman Yunani kuno merupakan zaman dimana mitos-mitos dan atau dongeng dikalahkan oleh akal, pemikiran, dan cenderung logis.
2. Pythagoras adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang paling dikenal melalui theoremanya. Filsafah pemikiran Pythagoras sangat matematis sehingga ia dikenal sebagai ‘Bapak Bilangan’.
3. Anaximanes merupakan orang yang pertama yang berpikir tentang persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. filsafatnya memfokuskan diri pada kejadian dan gejala alam semesta, maka filsafat mereka disebut dengan filsafat alam.
4. Xenophanes dalam filsafatnya ia menegaskan bahwa Tuhan bersifat kekal, tidak mempunyai permulaan dan Tuhan itu Esa bagi seluruhnya.
5. Heraclitus dalam filsafatnya ia mengatakan bahwa semesta ini selalu dalam keadaan berubah, sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin.
6. Parmenides merupakan seorang logikawan. Sistemnya secara keseluruhan disandarkan pada deduksi logis, tulisan Parmenides yang terkenal yaitu “On Nature”, sebuah puisi didaktik yang terdiri dari tiga bagian yaitu: proem, aletheia, dan doxa yang membahas tentang "jalan kebenaran" dan jalan "jalan pendapat".
7. Zeno paling besar adalah pengaruhnya bagi filsafat. Hampir seluruh buku matematika mencantumkan nama Zeno pada indeksnya. Paradoks tidak hanya merupakan pertanyaan terhadap matematika abstrak tetapi juga pada realitas fisik. Memperkecil skala seperti halnya paradoks bulir gandum, sampai tidak dapat dibagi yang memicu orang “membedah” suatu benda sampai tingkat atom.
8. Empedokles berpendapat bahwa seluruh benda di jagat raya tersusun karena penggabungan dan pemisahan keempat unsur yang menyusun segala kenyataan. Keempat unsur itu adalah : air, udara, api dan tanah.
9. Menurut Anaxagoras, zat yang menyusun alam semesta tidak tunggal, zat yang menjadi prinsip alam semesta jumlahnya tidak terhingga.
10. Demokritos adalah seorang filsuf yang termasuk di dalam Mazhab Atomisme. Ia mengembangkan pemikiran tentang atom. Demokritos juga menulis tentang ilmu alam, astronomi, matematika, sastra, epistemologi, dan etika. Sehingga dia dipandang sebagai seorang sarjana yang menguasai banyak bidang.
11. Thales mengembangkan filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar dan struktur komposisi daria alam semesta.
12. Sumbangan filosof Yunani Kuno di antaranya yaitu ilmu fisika, ilmu matematika, ilmu metafisika, ilmu psikologis, kimia dan biologi.
Diskusi
1. Jelaskan bagaimana munculnya filsafat Yunani Kuno!
2. Jelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan filsafat Yunani Kuno!
3. Diskusikan siapa sajakah tokoh-tokoh filosof pada masa Yunani Kuno?
4. Jelaskan sumbangan filosof Yunani Kuno terhadap perkembangan ilmu!
5. Jelaskan secara rinci pemikiran dari filosof Yunani Kuno!
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Abidin, Z. (2011). Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Achmadi, A. (2006). Filsafat Umum. Jakarat: Raja Grafindo Persada.
Bertens, K. (1975). Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanius.
Hatta, M. (2006). Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI-Press.
Kusumohamidjojo, B. (2012). Filsafat Yunani Klasik Relevansi untuk Abad XXI. Yogyakarta: Jalasutra.
Muzairi. (2009). Filsafat Umum. Yogyakarta: Teras.
Poedjawijatna. (1980). Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: PT. Pembangunan.
Surajiyo. (2007). Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Tafsir, A. (2009). Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Internet:
Andra. (2015). Filsafat Yunani (Parmenides). [Online]. Tersedia: http://penakampusadra.wordpress.com. [04 Maret 2017].
Anonim. (2013). Filsafat Yunani Kuno. [Online]. Tersedia: http://www.anakbangsa.blogspot.com. [04 Maret 2017]
Faizal, M. (2015). Filsafat Yunani (Yunani Kuno dan Yunani Klasik). [Online]. Tersedia: http://muhammadfaizalnafas.blogspot.com.[04 Maret 2017].
Heryani. (2012). Sains Zaman Yunani Kuno. [Online]. Tersedia: http://heriyanipendidikanfisika.blogspot.com. [04 Maret 2017].
Khotim, H. (2011). Sejarah Filsafat Yunani Kuno. [Online]. Tersedia:http://khotimhanifudinnajib.blogspot.com.[04 Maret 2017].
Kurniawati, S. (2014). Biografi Pythagoras. [Online]. Tersedia: http://soniasworldd.wordpress.com.[04 Maret 2017].


Komentar
Posting Komentar