CHAPTER REPORT
***
IDENTITAS BUKU
Judul
Buku :
Sains dan Agama: Rekonstruksi
Integrasi Keduanya
Pengarang :
Prof. Dr. Wahidin, M. Pd
Tahun
Terbit :
2015
Penerbit :
Ombak
Tempat
Penerbit : Yogyakarta
Ketebalan :
viii+235 hal.; 15.5 x 23 cm
No.
ISBN : 978-602-258-296-0
Sains dan Agama: Rekonstruksi Integrasi Keduanya
BAB I
FENOMENA DISFALSIFIKASI INTEGRASI ANTARA SAINS DAN
AGAMA DALAM TATA KEHIDUPAN MODERN
A.
Pengantar
Perubahan pada diri manusia menentukan
sifat, karakter, dan perilakunya. Manusia setiap saat berubah pikiran,
perasaan, keyakinan, idiologi, perilaku, dan seterusnya. Perubahan pola
berpikir juga dapat merubah paradigma dan falsafah hidupnya. Sebagai akibat
dari sebuah perubahan pada diri manusia
adalah bentuk pola berpikir, yakni pemikiran sains dan pemikiran spiritual.
B.
Zaman dan Perubahan Pemikiran
Manusia
Alam itu sebagai media zaman. Zaman
merupakan kondisi yang mengatur alam dan segala isinya untuk berkomunikasi,
bersentuhan, dan saling interaksi antarkomponen yang ada dalam alam ini. Perilaku
personal mempengaruhi kelompok dan seterusnya memengaruhi perilaku komunitas
dan bermasyarakat yang lebih luas. Perilaku ini sebenarnya didasarkan pada cara
berpikir yang telah menjadi mindset pada diri seseorang itu. Akan tetapi, jika
kebenaran yang dirujuk dari agama (Islam), maka kebenaran lain akan
mengikutinyaseperti kebenaran budaya, sosial, negara maupun hukum internasional
seperti kebenaran budaya, sosial, negara maupun hukum internasional.
C.
Rekonsepsi Makna Integrasi
Dalam konteks konsep integrasi,
pemikiran sains cukup sejalan dengan pemahaman yang benar terhadap agama Islam.
Unsur kemanusiaan pada diri manusia saat ini hampir menghilang sehingga nilai
kemanusiaan itu semakin menipis hinggap pada diri manusia. Pada saat ini,
manusia diakui maupun tidak manusia haus dengan hakikat hidup yang sebenarnya,
haus dengan makna hidup yang sejatinya.
Manusia sebagai bagian dari alam tidak
dapat melepaskan diri dari perkembangan dan peradaban manusia yang sedang
berkembang akibat dari pemikiran manusia itu sendiri. Karena itulah perubahan
itu merupakan sebuah sunatullah. Pemahaman yang memaksa untuk memisahkan sains
dan agama adalah pemaksaan yang tidak sunatullah karena tidak sesuai dengan hakikat
kehidupan manusia. Adanya perubahan mindset pada manusia itu sudah tercatat
dalam rencana Tuhan sejak alam ini diciptakan.
D.
Fenomena Teknologi Informasi vs
Bukti Hukum Tuhan
Berbagai kemudahan diperoleh manusia
melalui teknologi informasi. Manusia tidak bisa melakukan proteksi maupun
membentuk terhadap perkembangan percepatan dunia informasi karena itu sudah
merupakan ilmu Allah Swt dan sudah menjadi hukum alam yang akan datang dengan
sendirinya sesuai dengan perkembangan peradaban manusia.
Fenomena data bagi perkembangan manusia
yang digunakan di muka bumi bahwa data merupakan bagian yang dapat digunakan
sebagai alat apa saja. Bagi manusia yang akan paham pentingnya data maka data
menjadi sangat mahal nilainya. Data dapat dijadikan alat berperang untuk
memenangkan peperangan, perekonomian, dan politik lainnya.
E.
Fenomena Disfalsifikasi
Fenomena menunjukkan sebagian dosen
merasa tahu tentang integrasi, tetapi belum pernah membaca buku-buku tentang
integrasi. Hal ini menunjukkan bahwa selama ini terjadi proses internalisasi
ilmu dan pemahaman terhadap ilmu hanya mendengar atau hasil penyimpulan selama
diskusi atau pergaulan semata-mata.
BAB
II
RAHASIA
BERPIKIR PADA MANUSIA
A.
Pengantar
Berpikir
itu melibatkan kerja otak, jantung, dan rasa (Wahidin, 2004). Jantung dan rasa
sebagai faktor penentu pemberi pertimbangan yang luhur sehingga menentukan
kualitas pemikiran manusia. Pemikiran yang melibatkan jantungdan masalah yang
dapat membedakan manusia dengan hewan lain.
B.
Manusia Makhluk Berpikir
Manusia
adalah makhluk berpijir, sangat banyak rahasia yang terjadi pada saat berpikir.
Proses berpikir itu ibarat seorang masuk ke dalam hutan rimba di malam hari
yang sangat gelap. Sama halnya dengan berpikir, proses berpikir pada manusia
hanya mengenal dampak dari seseorang itu telah melakukan proses berpikir.
Manusi belum mengetahui secara pasti apa yang terjadi saat berpikir itu terjadi
yang sebanarnya. Manusia hanya dapat merasakan dampak dari proses yang telah
dilakukan. Oleh karena itu saking banyaknya rahasia dan keunikan yang terjadi,
terkadang manusia sendiri sulit menerjemahkan makna yang terkandung sebagai
hasil pemikiran manusia.
Banyak
faktor yang mempengaruhi manusia dapat berpikir secara normal. Perlu diketahui
bahwa budaya masyarakat dibangun oleh masyarakat yang sifatnya permanen yang
disebut badaya.
Sementara
itu, secara ilmu pengetahuan faktor penghalang atau barrier yang mengganggu
seseorang mampu berpikir normaldicirikan oleh faktor kognitif, faktor emosi
atau mental, faktor perilaku, bahkan faktor fisik manusianya itu sendiri.
Secara kerja otak, pemikiran manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain
itu, faktor idiologi, keyakinan, sentiment, rasa sombong, tekanan kejiwaan dan
sebagainya.
Pemikiran
spiritual yakni pemiiran yang tidak sekedar berlandaskan tingkat kelogisan,
tetapi unsure transedental memegang peran penting. Pemikiran spiritual pada
diri manusia penting untuk mengawal bahwa hidup tidak hanya berkaitan dengan
masalah kebendaan (keduniawian), tetapi meyakini ada kekuatan diluar dirinya.
Kekuatan itu menjadi penentu seluruh aktivitas hidupnya karena menjadi motivasi
hidup merupakan penggerak langkah, merupaka penguat keyakinan bahwa apa yeng
dulakukan sesuai dengan konsep dirinya.Pemikiran spiritual menyebabkan orang
menjadi sadar, empati, bersosial pada sesama dan perhatian pada benda-benda di
luar dirinya.
Pemikiran
spiritual dalam arti sempit bagi orang islam adalah pemikiran tentang adanya
Tuhan, keyakinan kepada Tuhan, menyadari segala amaliah akan mendapat balasan
dari Allah Swt., dan semua gerakan kita senantiasa mendapat pantauan dari Yang
Maha kuasa.
Kemampuan berpikir dan ketajaman
dalam memaknai sinyal dan alam alam, menyembuhkan penyakit, member bantuan pada
orang yyang memerlukan .....tidak ditentukan karena orang itu hafal Quran,
hafal hadis, berpredikat kiai dengan ribuan santri, atau dengan segala predikat
keagamaan .....tetapi orang yang dekat kepada Allah Swt. selalu berobsesi untuk
member .....memberi pertolongan pada siapa pun tanpa pamrih, ikhlas, tidak iri
dengki, tidak munafik, selalu mengharap rihdo Allah Swt. dan tidak serakah
urusan dunia. Keajaiban berpikir pada manusia,
yaitu manusia dapat berkomunikasi dengan makhluk gaib, seperti jin dan setan,
bahkan bekerja sama dnegan yang gila dengan media yang disebut khodam.
Jika
dilihat dari pandangan kerja otak dapat dipahami bahwa manusia dapat saja
melakukan proses berpikir bedasarkan pengalaman intelektualnya, sekalipun
secara ilmiah belum ditemukan metodologinya. Manusia dengan izin Allah dapat
melakukan proses berpikir secara “tajam dan penuh konsentrasi”, dengan
memusatkan pikiran secara penuh dan meminta langsung kepada Allah ia dapat
melakukan sesuatu untuk dirinya dan juga dapat digunakan untuk memberikan ppertolongan
kepada orang lain.
Dengan
pemikirannya manusia dapat selamat dan dengan pikirannya juga manusia dapat
musibah. Selamat, karena manusia dengan pemikirannya dapat bersosial dengan
manusia lainnya. Jadi, pemikiran manusia itu merupakan alat dalam melakukan
semua aktivitas. Karena itu, setiap manusia memiliki kepiawaian tersendiri
dalam menggunakan otaknya.
C.
Proses Berpikir pada Manusia
Hampir
semua ilmuwan sepakata bahwa proses berpikir melibatkan otak. Beberapa temuan
pernah diungkapkan bahwa otak manusia memiliki jumlah sel yang berperan aktif
saat berpikir, jumlah ini dapat ditentukan secara ilmiah minimal sampai dengan
akhir abad ke-20. Interaksi antara sel-sel itu menyebabkan timbulnya energy
listrik yang mampu menggerakkan sel lain di luar otak yang pada organ lain
seperti mata, jantungg, tangan, kaki, mulut, telinga, hhidung, mulut, dan organ
lainnya. Dengan demikian, sel-sel dalam organ itu dikendalikan secara total
dari otak untuk melakukan fungsinya.
Akan
tetapi, sisi lain menurut hasil penelitian bidang kedokteran juga menunjukkan
bahwa justru jantunglah yang memilki energy listrik yang lebih besar dibanding
energy listrik yang dikeluarkan oleh otak. Fungsi ganda jantung sebagai alat
berpikr seperti otak melahitkan jenis berpikir yang disebut pemikiran
spiritual. Pemikiran spiritual merupakan pemikiran yang bersifat transsedental,
menganggap bahwa ada kekuatan di luar dirinya.
D.
Pandangan tentang Berpikir
Proses
yang sebenarnya terjadi dalam otak manusia ketia berpikir merupakan perkara
yang misteri. Banyak para ahli yang mengungkapkan tentang berpikir antara lain:
Gary (1999:5) menyatakan bahwa “berkomunikasi, menulis dan berdialog merupakan
proses berpikir”. Sebagai roses berpikir, saat berkomunikasi dengan orang lain,
seseorang itu terlibat dengan dua elemen komunikasi, yaitu in put
(mendengar, memperhatikan, dan membaca jika komunikasi bukan dalam bentuk
tulisan) dan out put (berbicara, tindakan, dan menulis jika komunikasi
dalam bentuk tulisan).
Terkait
dengan pendidikan, para pakar juga seakat bahwa kemampuan berpikir ternyata
dapat dipelajari dan ditingkatkan melalui latihan. Keterampilan berpikir adalah
keterampilan intelek, seperti keterampilan menghapal dan mengingat kembali
fakta dan penerangan, memberi penjelasan, membuat analisis, mengeluarkan
pendapat, membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah atau merancang.
Sehubungan itu, keterampilan berpikir ialah satu keterampilan untuk berpikir
secara perspektif, generatif, dan kreatif. Dengan kata lain, keterampilan
berpikir sebagau satu kecakapan menggunakan pikiran untuk mencari makna dan
pemahaman terhadap sesuatu.
BAB III
REKONSTRUKSI TERHADAP MAKNA INTEGRASI KEILMUAN
A.
Pengantar
Pembicaraan mengenai integrasi keilmuan
sebenarnya bukan hal baru bahkan sejak Tahun 1970-an para ilmuan muslim sudah
biasa membicarakannya. Para sarjana bicara tentang alam ini dihubungkan dengan
kekuasaan Tuhan, mengaitkan ilmu pengetahuan dengan spiritualitas, nilai,
norma, etika, bahkan sering dihubungkan dengan wahyu sebagai wujud pengakuan
terhadap kebenaran Tuhan.
Pentingnya konsep integrasi maka perlu
menjadi bagian dari pemikiran ilmuwan dan masyarakat saat ini, supaya
antarsesama manusia tidak engelirukan yang sudah benar dan tidak dikelirukan
oleh realitas yang ada.
B.
Studi Kasus terhadap Pemaknaan
Integrasi dan Implementasinya
Hasil studi kasus beberapa persepsi
dosen terhadap keilmuwan:
1.
Integrasi
itu sekedar keputudan politik kementrian agama
2.
Integrasi
itu mengada-ada dan hanya untuk kepentingan kegiatan proyek anggaran
3.
Integrasi
itu susah dilakukan
4.
Integrasi
keilmuan tidak bisa dilakukan paling tidak yang bisa dilakukan adalah
menyandingkan.
5.
Integrasi
itu dilakukan dengan cara meyelaraskan antara ilmu-ilmu umum, agama, dan
terapan serta teknologi untuk menuju integrasi yang sebenarnya.
6.
Integrasi
itu digunakan sebagai frame saja
7.
Integrasi
itu berada pada mindset sehingga semua bidang keilmuan apat di integrasikan
8.
Integrasi
itu harus terarah bukan hanya diskusi dan peradaban tetapi integrasi itu perlu
road map yang jelas menjadi tahapan-tahapan yan akan dilakukan.
9.
Integrasi
itu mudah sekali, kita melaksanakan pekerjaan sesuai aturan, tidak neko-neko,
tidak korupsi, tidak politis, tidak saling menyalahkan, tidak sentimen, tidak
menganggap orang tidak mengerti dan hanya dirinya sendiri lebih tahu, nafas
integrasi itu adalah kebersamaan secara benar dan ikhlas.
10. Integrasi itu saling
mengisi, dosen umum diberikan tambahan wawasan ilmu-ilmu agama.
11. Integrasi itu lebih
penting diwujudkan dalam tindakan dan kebijakan bukan sekedar diseminarkan.
C.
Konten (Substansi) Integrasi
Keilmuan Menurut Pandangan Kontemporer
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
persepsi dosen tentang konten integrasi keilmuan adalah:
1.
Integrasi
science, Alquran dan hadits bahkan semua ilmu ada keterkaitan baik filosofis,
strukturnya, maupun epistemologinya.
2.
Integrasi
kontennya berorientasi kepada tujuan. Tujuan ilmu adalah untuk kemashlahatan
manusia dengan pendekatan, metode saling mengisi dan memperkuat sebagai wujud pengabdian
pada Allah Swt.
3.
Integrasi
itu tetap memperhatikan keterkaitan masing-masing disiplin ilmu.
D.
Merespon terhadap Hasil Penelitian
Integrasi merupakan keterhubungan
keilmuan, tidak dikotomi antara ilmu dan ilmu agama, baik dua sifat atau lebih
ilmu. Integrasi itu dapat permanen antara disiplin ilmu satu dengan lainnya
yang memadukan sains, nilai-nilai dan keagamaan sesuai konteks kurikulum
termasuk paradigma yang membangun berbagai keilmuan.
Keterpaduan antara sains dan agama itu
memberikan ruh nilai-nilai religius, pemahaman ilmu itu satu, yaitu ilmu dan
Tuhan.
Pemikiran integratif tidak akan
menafikan terhadap ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat sebab kedua-duanya
merupakan satu kesatuan.
Integrasi merupakan suatu kesatuan revolusi
epistemologi karena sumber ilmu aslinya dari Allah Swt., Alquran dan Hadits
yang karenanya dapat menempatkan dan memandu keterkaitan naqliah dan aqliah.
Pengembangan sains berbasis agama dapat terbentuk konsep teori dan praktik ang
berdasar nilai Islam.
BAB IV
MERESPONS POLA PENDIDIKAN DI INDONESIA
A.
Pengantar
Mengapa
tema tentang pola pendidikan penting dibicarakan, hal ini tentu saja karena
pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah baik pada
pendidikan pesantren, pendidikan agama ataupun pendidikan umum melahirkan pola
pendidikan pola pendidika merupakan pembentukan mindset masyarakat. Oleh karena itu semua pihak ajib berhati-hati
dalam merancang program persekolahan, buku pelajaran, proses pembelajaran dan
semua aturan yang menyertainya berkaita denga pelaksanaan proses pendidikan.
B. Fenomena
Kejadian menarik ditemukan dalam masyarakat tentang
penerapan integrasi, khususnya dalam konteks pendidikan. Seperti halnya adanya
dua angapan yang berbeda dari masyarakat mengenai dua bahasa yaitu bahasa
inggris dan bahasa arab dan juga mengenai pendidikan pesantren lebih baik dari
pendidikan umum.fenomena tersebut, pemikiran dan mindset keda kalangan tidak objektif karena hanya melihat dari siis
negtaifnya.
Kebijakan negara indonesia dibidang pendidikan,
menganut sisitem pendidikan nasional. Akan tetap secara kontektional masih
mengaunt nomenklatur pendidikan pesantren, pendidikan agama dan pendidikan
umum, ada perguruan tinggiagama dan perguruan tinggi umum. Walaupun secara
sistem penddikan nasional, tetapi realitasnya ketiga pola pendidikan ini
berdampak pada pembanguna karakter yang berbeda sehingga tidak bisa dipungkiri
menghasilkan pemikiran yang dikotomis.
Dalam aksus yang kronis berfikir dikotomis ini
menjadi paradigma berfikir. Lebih jauh, fenomena in akan menghasilakn ideologi,
budaya, sikap dan perilaku. Fenomenan ini potensi timbulnya perpecahan atau
konflik dalam masyarakat jika tidak dikelola secara sistem dalam kontek
pengelolaan dan kurkulumnya.beragam orang merancang kurikulum termasu
pemerintah merumuskan definsi integras dalam konteks pendidikan.
1. Pengaruh
media, probelama, dan akar polarisasi pendidikan
2. Dialetika
dan dikotomi sistem pendidikan
3. Konep
pendidikan islam
4. Pendidikan
umum versus pendidikan agama
5. Pendidikan
lingkungan (al-bi’ah)
6. Komersilisasi
pendidikan
7. Perfoma
pendidikan ideal dan model-model integrasi pendidikan.
C. Merespon
Realitas Pola Pendidikan Yang Ada
Segolongan
masayarakat tertentu dapat merasakan ketimpangan dalam pola pendidikan di
Indonesia. Masayarakat sebagi pengguna stakholders
pendidikan merasak betul bahwa hasil endidikan kit amsih ketinggalan.
Tercapainya keselarasan antara harapan dan realitas. Dengan kata lain proses
pendidikan perlu berupaya mewujudkan siswanya mampu untuk mengembangkan
intelektualitas, kesaran terhadap harga dirinya, kejujuran, kebiasaan yang baik
(berakhak) bersikap ilmiah, mempunyai kesadarn dan tanggung jawab terhadap
lingkungnan dan ketakwaan terhadap tuhan.
Dalam
dunia persekolahan umumnya guru belum memusatkan perhatian mereka pada kualitas
pendidikan pengajaran dan pembelajaran para gurU terlena dengan pengajaran
konsep-konsep yang bersifat akademik dan statis. Akibatnya siswa menghadapi
kesukaran untuk mengembangkan kemahiran berfikir kritis dan kreatif. Keadaan
ini disebabkan sempitnya pengalaman dan wawasan para guru.
Dalam
konteks pembangunan pendidikan pada saat ini, jika merujuk kepada peluang,
tujuan dan harapan pendidikan di Indonesia, berbagai alernatif strategi
pembelajaran sains dapat dilakukan oleh para guru sains atau diluar guru sains disekolah.
Salah satu strategi pengajaran dan pembelajaran adalah dengan menggunakan peta
konsep, peta vee dan kaidah pengajaran kemahiran berfikir.
1. Perkembangan
Persekolahan Versus Perkembangan Ketrampilan Berfikir Siswa.
Perkembangan
sisitem persekolahan di Indonesia berawal dari pendidikan pada zaman penjajahan
Belanda dan Jepang serta zaman awal
kemerdekaan sampai tamatnya masa pemerintahan Soekarno. Pendidikan pada zaman
Belanda berdasarkan pada ‘liberalisme kapitalisti’sedangkan pada zaman awal kemerdekaan,
nama sistem persekolahan diganti menjadi sistem pendidikan nasional dengan
lebih menekankan pada perwujudan nasionalisme.
Masa reformasi
banyak perubahan telah dilakukan mengikuti pelaksaan otonomi daerah. Beberapa
penyesuaian turut dilakuakn dalam sistem pendidikan, antara lain Penyempurnaan
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Guru Dan Dosen,
Undang-Undang Pengelolaan Pendidikan Tinggi, Berbagai Peraturan Pemerintah dan
lain sebagainya.
2. Isu-isu
Seputar Kualitas Pendidikan Persekolahan di Indonesia
Isu kualitas
pendidikan yang rendah bukanlah hal yang baru. Oleh karena itu tidaklah adil
jika persoalan ini dibebankan kepada satu institusi pendidikan saja. Dalam
konteks isu kualitas pendidikan di Indonesia, ada beberapa hasil penelitian
antara lain sebagai berikut:
Pertama,
hasil
menunjukan bahwa muali tahun 1984 sampai tahun 1996, hasil ujian nasional
menunjukan peningkatan rata-rata nilai NEM menunjukan nilai yang sangat rendah
untuk mata pelajaran Kimia, Fisika, Biologi dan Matematika. Dari segi nilai,
penguasaan konsep-konsep sains dan matematika di Sekolah Menengah Umum memang
sangat rendah.
Kedua,
siswa
seolah-olah mengalami phobia untuk
menjawab soal-soal yg sukar dan memerlukan kemahiran berfikir tngkat tinggi,
penguasaan konsep-konsep abstrak, dan soal-soal yang berisi tentang penguatan
dengan pengiraan dan logika. Para siswa kelihatanya hanya siap melakukan
perkara-perkara yang mudah. Bagi guru sains dan matematiak perkara ini menjadi
kebiasaan sejak awal pembelajaran.
Ketiga,
siswa
kurang melakukan kegaiatan-kegiatan akademik sebagai suatu kebiasaan (Prabowo,
1992). Akibatnya sikap, cara berfikir kritis dan kretif merka tidak terbina.
Kegiatan dilaboratorium kurang berkesan terhadap pengembaangn pola berfikir
siswa.
Keempat,
hasil
penelitian menunjukan bahwa lulusan Sekolah Menengah Umum yang melanjutkan ke
jenjang Universitas lebih rendah jumlahnya dibandingkan dengan yang terjun
kedunia kerja (Kanwil, 1998). selanjutnya lebih menghawatirkan proses
pendidikan guru khususnya guru Sekolah Menengah di Indonesia hanya menciptakan si jago hafal yang belum peka terhadap
tingkat pembelajaran bermakna dan berfikri tingkat tinggi. (Depdiknas, 2001).
Kelima,
program-program
peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran sains dan matematika bagi
Sekolah Menengah Umum telah dilakukan. Program peingkatan kualitas guru Sains
dan Matematika melalui pelatihan guru seperti PKG, SPKG, LKG, MGMP. Selanjutnya
seminar dibidang pendidikan juga sering dilakukan. Dibidang institusi pendidikan
juga perbaikan kurikulum fakultas pendidikan di Universitas-universitas dan
Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (IKIP) terus dijalankan.
Keenam,
hasil
penelitian menunjukan bahwa banyak guru Sains khusunya didaerah Jawa Timur yang
mengalami kesukaran untuk mengajar dan
mengembangkan kemampuan intelektual siswa (Wartono, 1992). Oleh sebab itu
pengurangan masalah-masalah pendidikan itu perlukan. Ini menuntut para guru
yang berkemampuan agar pengembangan dan pembaharuan pembelajaran yang
berkualitas, dapat dilakukan.
3. Bahan
Renungan Bagi Guru dan Dosen
Dalam konteks
ini disajikan beberapa hasil kajian untuk menjadi bahan renungan, khusunya bagi
para praktisi pendidikan. Penelitaian difokuskan terhadap alat atau cara
mengajar lebih menyentuh terhadap peningkatan pemahaman konsep, keterampilan
berfikir dan mampu meningkatkan kesadaran siswa. Seperti penggunaan peta konsep
yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah kesukaran mempelajari kima.
Kesimpulanya,
semua kajian tentang penggunaan peta konsep dan peta vee yang telah dikaji, berkaitan dengan pencapaian hasil belajar
seperti kemahiran berfikir, penguasaan konsep, sikap, dan kesukaran belajar.
Oleh karena itu hasil kaajian lepas ini mengukuhkan latar belakang teori dalam
kajian ini, dan diharapkan memperoleh hasil kajian yang lebih komperehensif.
4. Pandangan
Beberapa Ahli Pendidikan Terhadap Pendidikan Sains
Pengajaran
kimia, termasuk juga pengajaran lain disekolah manapun diperguruan tinggi perlu
diusahakan agar siswa berkemampuan mengembangkan potensi dirinya secara wajar.
Terutamanya perkembangan dari segi kognitif, keterampilan, sikap, dan akhlak
secara bersama-sama. Dalam hal ini, para ahli pendidikan sepakat bahawa proses
pembelajaran yang berkesan adalah pelajar membangun sendiri secara aktif (Fellow,
1994).
Pada asasnya
menekankan kepada pentingnya
pengembangan segi kognitif siswa sebagai kesan pengajaran dan pembelajaran.
Walaupun begitu Ausabel, Gagne, Novak dan Gowin lebih fokus kepada pengembangan
struktur kognitif. Dalam hal ini Ausabel lebih menekankan pentingnya belajar bermakna dalam pembelajaran.
5. Pembelajaran
Sains
Pada umumnya
banyak siswa yang berkata bahwa mata pelajaran kimiaitu sukar, siswa menunjukan
aktivita synag tidak diharapakan seperti sikap dan motivasi untuk belajar kima
yang rendah (Prabowo, 1992; Liliasari, 1996). Usaha perbaikan dari segi sarana
dan prasarana, kurikulum, kualitas guru, dan kebijakan pendidikan senantiasa
mendapat perhatian pemerinta, tetapi kesanya tidak signifikan, (Lilisari,
1996).
Perkara ini
sangatlah menghawatirkan jika ditinjau dari sudut tujuan pendidikan nasional,
yaitu “Memantapkan ketahanan nasional serta mewujudkan masyarakat maju yang
berakar pada kebudayaan bangsa dan persatuan nasional yang berwawasan bhineka
tunggal ika berasakan pancasila dan UUD 1945” (UUSPN. NO. 20 Tahun 2003. Keadaan
ini mungkin dipengaruhi oleh kurangnya kesan dari pengajaran dan pemebelajaran
sains.
BAB V
MEMBANGUN PERSEPSI INTERGRASI SAINS DENGAN AGAMA
A.
Pengantar
Persepsi
merupakan hasil berpikir. Persepsi melahirkan mindset, keyakinan, ideologi,
cara pandang, sikap dan perilaku (seperti gaya hidup dan cara berkomunikasi).
Persepsi yang salah dilahirkan dari cara berpikir yang salah.
B.
Hakikat Manusia
Manusia
diciptakan Allah SWT dengan sengaja dan dengan tujuan yang jelas, yaitu untuk
menyembah Allah dan mewujudkan bentuk ibadah kepada Allah juga sebagai wakil di
bumi untuk mengurus dan mengelola alam termasuk manusia untuk kemaslahatan.
Manusia dibekali jiwa dan ruh untuk mengenal dan berkomunikasi dengan
Tuhan-Nya, sehingga berpotensi mengetahui dan mengenal fungsi dirinya
diciptakan Tuhan. Manusia juga dibekali dengan akal dan pikiran sehingga mampu
menciptakan ilmu dan peradaban, kita belum mengenal peradaban makhluk lain
seindah peradaban manusia.
Akal
dan pikirannya yang menyebabkan manusia memiliki kemampuan mengembangkan budaya
dan peradaan. Manusia juga dibekali nafsu, sehingga dapat berkomunikasi sesama
manusianya sesuai dengan “chemistry-nya” atau gelombang dirinya. Peradaban
manusia terjadi dan dapat diwarnai dengan potensi nafsu, akal dan pikiran
manusia. Namun, manusia juga diberi potensi lupa dan ingkar janji. Semestinya
dengan modal akal, pikiran, jiwa dan rohaninya manusia dapat mengelola dirinya
melalui komunikasi dengan Allah, untuk mengarahkan nafsu hewani menjadi nafsu
manusiawi.
C.
Hakikat Ilmu
Ilmu
merupakan cara untuk mengetahui sesuatu. Sesuatu itu adalah hakikat ilmu yang
diperoleh manusia secara ilmiah maupun tidak secara ilmiah. Tempat ilmu maupun
makrifat adalah jiwa (al-nafs), hati (al-qalb) dan akalnya (al-aql). Hakikat
ilmu dikatakan bahwa realitasnya ilmu itu ada ilmu sekuler dan ilmu
integralistik. Ilmu integralistik (ilmu produk manusia beriman), ilmu
integralistik itu bersenyawa dengan nilai-nilai ketuhanan. Sedangkan ilmu
sekuler, adalah ilmu yang kita pelajari selama ini, dan dengan ilmu itu kita
lahir dan berpikiran seperti ini. Namun ilmu-ilmu sekuler samoau saat ini belum
dapat mengobati “penyakit sosial dan penyakit pada diri manusia (penyakit
rohani dan penyakit syirik). Ke depan diharapkan ilmu integralistik berkembang
beriringan dengan ilmu sekuler.
D.
Kajian-Kajian Para Ahli tentang Integrasi Keilmuan
Ditinjau
dari perspektif integrasi, terdapat perbedaan mendasar antara agama dengan
ilmu, pertama pada mindset, yaitu dimensi ilmu otoritasnya berada pada
pembuktian, sementara otoritas agama berada pada kepercayaan dan kepasrahan
sebagai landasan. Kedua, ilmu itu terbuka terhadap pandangan-pandangan baru
asalkan masuk akal dan ditunjang bukti faktual yang memadai. Agama wajib
menggunakan akalnya untuk wahyu, agama cenderung defensif terhadap
pemahaman-pemahaman baru. Ketiga, ranah utama agama adalah misteri-misteri
terdalam kehidupan beserta makna-makna pengalaman yang sesungguhnya di luar
batas jangkauan ilmu-ilmu empiris.
Perspektif
integrasi ilmu menurut pandangan Islam adalah bahwa ilmu tidak berdiri sendiri
dan ilmu tidak bebas nilai. Kategori integrasu dapat dilihat dari aspek sumber,
nilai, informasi, energi dan materi sebagai referensi keilmuan yang
didialogkan. Sementara itu komponen
epistemologi, aksiologi, teologi dan kosmologi mendukung penyempurnaan
integrasi keilmuan. Konsep pendidikan dalam Islam dapat mrlahirkan struktur
keilmuan yang integratif.
Salah
satu tipe pemikiran sains dicirikan dengan berpikir terintegrasi (terintegrasi
antara pemikiran luhur, pemikiran lahir, pemikran logis dan pemikiran lateral).
Pemikiran luhur merupakan pemikiran suci yang bersumber dari wahyu Tuhan (Allah
SWT) yang agung dan memiliki kebenaran yang hak (bagi orang Islam). Pemikiran
luhur melahirkan perilaku keagamaan yang biasa dilakukan dalam kehidupan.
Pemikiran logis merupakan pemikiran yang bersumber dari kebenaran (kepastian
dan ketepatan). Kebenaran ini bersumber dari kerja ilmiah, dan menggunakan
nalar yang sehat, baik secara fisik maupun psikologis. Pemikiran lateral
merupakan pemikiran kreatif, inovatif dan imajinatif. Pemikiran lateral selalu
mementingkan yang terbaik, mencari jalan baru atau cara baru, dapat melakukan
apa saja yang dianggap positif dan tidak boleh mengatakan there is no
alternatif, tetapi semua bisa, walaupun kadang-kadang tidak logis. Pemikiran
lahir merupakan realitas kemampuan otak manusia sejak dalam kandungan, masa
bayi, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa dan masa tua. Realitasnya
kemampuan pemikiran lahir tidak sama, disebabkan karena interkoneksi antara pemikiran
luhur, pemikiran lahir, pemikiran logis dan pemikiran lateral yang berbeda,
sehingga menyebabkan pemikiran lahir yang berbeda. Hal ini dapat dilatihkan
bagaimana memadukan, mensinergikan dan/atau mengintegrasikan keempat pemikiran
tentu akan melahirkan pemikiran lahir yang lebih baik. Akan tetapi,
permasalahan menarik tentang kesulitan membangun integrasi keilmuan kita adalah
sistem pendidikan dan pola pengajaran yang dilakukan pendidikan kita,
kenyataannya masih terkotak-kotak.
E.
Hakikat Spiritualitas
Spiritualitas sudah merupakan bagian yang sangat
suci dan mendalam, sangat mendasar, dan prinsip pada diri manusia. Secara
psikologi muncul kecerdasan spiritual yang berhubungan dengan kemampuan
seseorang untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan makna, nilai luhur
dan manfaat diri dalam berperilaku pada kehidupan dibandingkan dengan orang
lain sebagai pertanggungjawaban nanti di hadapan Tuhan. Initegrasi antara
kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual digunakan untuk menggambarkan
bagaimana kemampuan seseorang untuk membersihkan hati, mengelola emosi dan
mengelola pola berpikir luhur, sehingga melahirkan perilaku yang patut menurut
ukuran manusia sehat.
F.
Hakikat Persepsi pada Manusia
Manusia sebagai makhluk berpikir
(rasio), berakal dan memiliki (keyakinan, rasa/nurani). Secara singkat persepsi
seseorang merupakan potensi diri yang dibangun oleh kemampuan memandang,
memproyeksi, menilai, menerjemahkan, meyakini terhadap realitas dan alam
sekitar, sehingga arah dan Tujuan hidupnya menjadi jelas bagi dirinya. Persepsi
seseorang berkembang mengikuti perkembangan sistem berpikir terjadi secara
alamiah dan dengan rekayasa. Sistem berpikir dan sistem keyakinan akan saling
menguatkan untuk memperkaya persepsi.
Teori kognitif memandang bahwa
interaksi kerja otak terhadap sesuatu baik yang merupakan bagian dari dirinya
maupu di luar dirinya secara sadar dikatakan persepsi. Persepsi dapat dilakukan
berdasarkan pemikiran sehat, pemikiran sehat melahirkan persepsi yang rasional
dan luas. Sebaliknya, pemikiran sakit melahirkan persepsi yang sempit, kurang
logis, dan sentiment. Pemikiran sehat memiliki ciri-ciri sederhana, yaitu
minial memiliki kadar objektivitas atau memiliki nilai-nilai kelogisan,
mengandung nurani kemanusiaan, berperilaku dan berpandangan dengan mata
hatinya, bertindak dengan rasa jiwanya dan selalu penuh harap yang berorientasi
ke masa depan. Persepsi pada manusia dapat beruah dengan pengalaman, proses
belajar, saling perenungan, penyadaran, pemaknaan terhadap hidup dan kehidupan,
improve skills dan experience. Persepsi mendorong orang mampu
melakukan integrasi dalam hidupnya.
Otak manusia bekerja sesuai dengan
pola. Pola berpikir pada manusia terjadi sesuai dengan style-nya. Style berpikir
setiap orang berbeda-beda setiap ia menghadapi satu permasalahan atau menhadapi
realitas kehidupan. Mindset sangat erat dengan kebenaran. Karena itu,
dalam konteks kebenaran, kebenaran itu merupakan keyakinan pada diri seseorang.
Mindset manusia ditentukan oleh asupan yang ia peroleh dari lingkungan,
sehingga kebenaran yang akan konsisten dalam segala kondisi jika dan hanya jika
menggunakan asupan nilai-nilai agama dari Tuhan. Jadi, kebenaran yang akan membawa kemashlahatan
adalah kebenaran yang asupannya bukan hanya hasil kerja otak semata-mata,
melainkan dimodifikasi dengan nilai-nilai.
Perbedaan cara pandang terhadap
kebenaran antara paradigm sains, paradigm agama, dan aparadigma pragmatis,
seperti dunia (bisnis, politik dan birokrasi) melahirkan konflik intelejtual
pada orang yang memerankan kebenaran. Dari sudut pandang islam, jika terjadi
demikian, sandarannya adalah QS. Ali `imron (3): 103. Sehubungan dengan itu,
ada tiga model yang dapat dilakukan supaya tidak terjadi konflik intelektual,
yaitu (1) model dekodefikasi (penjabaran), (2) islamisasi pengetahuan, dan
demistikasi (peniadaan mistik).
G.
Berpikir pada Manusia
Bagaimana hubungan persepsi dengan
berpikir pada manusia? Tentu saja persepsi merupakan bagian dari atau sebuah
prosuk proses berpikir. Persepsi yang timbul pada seseorang yang dihasilkan
dari proses berpikir yang benar akan menghasilkan persepsi yang benar. Pikiran–pikiran yang dibangun oleh kerja otak
yang normal, kerja jantung dan rasa ikhlas yang tidak dibuat-buat, tidak
mengingkari hakikat manusia, dan selalu berharap Ridha Allah SWT akan
melahirkan perepsi yang benar.
Hasil penelitian bidang pendidikan
menunjukkan bahwa cara berpikir sesorang ditentukan oleh keyakinan, latar
belakang pendidikan, kebiasaan, pergaulan, bahan bacaan dan lingkungan. Oleh
sebab itu, setiap orang memiliki pola berpikir yang khas. Pola berpikit ini
sederhanyan disebut mindset. Mindset inilah yang akan
memformulasi persepsi seseorang.
H.
Pengalaman Intelektual dan Pengalaman Spiritual
Makna integrasi berdasarkan
pengalaman intelektual dan pengalaman pengalaman spiritual seorang motivator
yakni Bapak Sudrajat Rasyid terdiri dari tiga faktor, yaitu mutual understanding,
mutual responsibiolity dan harmoni. Integrasi itu saling mengerti dan
memahami. Integrasi dalam konteks ini, ada empat prasyarat orang dapat saling
mengerti dan memahami, yakni orang harus memiliki kearifan intelektual,
kearifan spiritual, kearifan social dan kearifan emosional.
Jika ilmu dan agama diintegrasikan,
maka ada enam dimensi pandangan dunia yang dapat digunakan untuk melakukan
analisis terhadap agama, antara lain dimensi doctrinal atau filosofis, naratif
atau mistis, etis atau legal, fraktis atau ritual, eksperimental atau emosional
dan dimensi social atau organisasional.
BAB VI
PEMIKIRAN INTEGRASI
ILMU DAN AGAMA
Integrasi
bukan hal baru dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pemahaman agama dan ilmu
pengetahuan. Akan tetapi, perhelatan itu
senantiasa terus berlangsung sampai saat ini, dan pihak-pihak yang berkeinginan
memproklamirkan egonya tentang kebenaran terus bertahan dengan argumennya
masing-masing yaitu tentang pemahaman makna agama yang berorientasi akhirat
(ada kehidupan setelah mati) dengan agama sebagai ilmu yang dapat dipelajari di
dunia, serta pemahaman tentang pengetahuan di luar agama atau sekuler.
Bagaimana manusia diajak untuk berpikir kemaslahatan, keamanan, kesehatan,
kebersamaan, kemajuan, kesejukan, kedamaian, ketenangan, dan hal lain yang
bersifat dunia. Selain urusan dunia harus dikaitkan dengan urusan akhirat atau
nonduniawi sebagai perwujudan pengabdian kepada Tuhan.
Pandangan
Syed Muhammad Naquib Al-Attas (2013) tentang ilmu ada dua jenis. Pertama adalah
ilmu yang dengan kehendak-Nya diberikan Allah kepada manusia yang
dikehendakinya. Kedua ilmu yang diperoleh oleh kekuatan daya dan usaha manusia
sendiri mendapatkannya melalui pengalaman intelektual dan penelitian terhadap
alam ini. Ilmu yang diperoleh manusia dengan dua kenyataan , yaitu pertama
sebagai tamsil dan kedua sebagai pengenalan diri, hakikat alam dan Allah yang
memiliki hak. Tamsil pertama disebut sebagai hidayah, sebagai petunjuk ke jalan
yang lurus dan benar.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perubahan persepsi dan cara berpikir itu adalah sebagai
berikut.
1.
Perkembangan
ilmu pengetahuan, teknologi, dan infromasi dikaitkan dengan pemahaman agama
Perkembangan dunia di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi informasi sudah merupakan paradigma baru intergrasi ilmu dan agama.
Sekarang dapat dipastikan orang mempermasalahkan hand phone hubungannya dengan
keyakinan agama. Ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini sudah memengaruhi
pemikiran orang. Akibat perubahan cara berpikir, maka persepsi terhadap
integrasi mengalami perubahan. Kemampuan berpikir universal, berpikir global,
dan berpikir integratif lebih besar dibandingkan pemikiran sektoral dan
kotak-kotak. Beberapa fenomena yang terjadi sebagai akibat perkembangan
peradaban memengaruhi manusia itu sendiri dan akhirnya akan terbentuk siswtem
yang secara terus-menerus peradaban itu akan berkembang sesuai dengan
perkembangan manusia itu sendiri.
2.
Perkembangan
alat komunikasi dikaitkan dengan budaya
Perkembangan budaya masyarakat yang cenderung
merusak pemikiran gaya hidup. Pemikiran instan, serba cepat, dan melampaui
jarak, ruang dan waktu dapat mengakibatkan otak anak menjadi takut berpikir
yang sifatnya menantang atau phobia thinking. Jika anak takut berpikir atau
tidak tahan untuk berpikir lama-lama ini, menyebabkan otak anak cepat mengalami
kelelahan. Anak akan cepat mengalami frustasi dan otak anak tidak biasa
digunakan untuk berpikir secara normal. Beberapa dekade terakhir hasil
penelitian pada tahun 2004 menyimpulkan bahwa anak SMA mengalami phobia
thinking khususnya ketika mereka belajar di sekolah.
3.
Perkembangan
alat transportasi membentuk orang berpikir cepat dan instan
Transportasi yang cepat, selamat, dan nyaman adalah
standar pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat modern. Dampaknya adalah
menyebabkan kerja otak diarahkan pada target tersebut dan menyebabkan kebiasaan
berpikir orang menjadi sederhana dan sempit. Tentu, dari segi positifnya juga
ada bahwa alat transportasi menyebabkan mobiltas manusia menjadi mudah.
4.
Peralatan
teknologi canggih, alat kedokteran, alat teknologi pertanian, alat teknologi
peternakan, alat teknologi makanan, dan termasuk teknologi pendidikan membentuk
orang berpikir dan bersemangat hidup yang tinggi
Fenomena ditemukannya berbagai alat kedokteran yang
modern menyebabkan orang berpikir optimis. Pemikiran optimis tidak serta merta
muncul sebagai kebiasaan semata melainkan proses yang terjadi ketika gejala
perlakukan medis dilakukan pada manusia dan berhasil ditanggulangi. Perubahan
pemikiran itu dapat dilakukan dengan pembiasaan, pemaksaan, dan kesadaran
tetapi dapat juga dilakukan dengan pengkondisian.
Berpikir dipengaruhi oleh faktor psikologi dan
hormon tubuh yang diproduksi saat orang melakukan interaksi dengan lingkungan.
Hormon-hormon itu akan keluar sat tubuh merespon lingkungan, perubahan respon
akibat sistem hormonal secara langsung mempengaruhi energi listrik yang
mengalir ke otak dan ke jantung sehingga kerja otak dan jantung akan
dipengaruhi oleh kerja sistem hormon yang sedang berjalan. Keseimbangan
keduanya akan berdampak pada terbentuknya kondisi tubuh misalnya menjadi
tenang.
Di sisi lain, peralatan atal teknologi pertanian,
teknologi peternakan, dan teknologi makanan membentuk orang berpikir kreatif
dan inovatif melampaui kebiasaan alam. Manusia dengan disiptakannya peralatan
canggih sistem hormonalnya akan terangsang untuk menyalurkan energi ke otak dan
ke jantung untuk melakukan proses berpikir. Pemikiran ini menggerakkan untuk
lebih memanfaatkan sumber daya alam dengan alat canggih sehingga ditemukan ide
baru.
Pendidikan, teknologi, dan sistem informasi
membentuk orang berpikir sistemik dan multidimensi melampaui budaya dan
peradaban manusia. Pada kondisi normal, pendidikan seharusnya melahirkan sebuah
budaya. Lokomotif budaya itu adalah tingkat intelektual manusianya. Akan
tetapi, realitas perkembangan pendidikan Indonesia jauh tertinggal dibandingkan
budaya bangsa lain. Hal ini karena pengaruh perkembangan teknologi dan
informasi yang jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan pendidikan. Jadi,
lingkungan lebih dulu membelajarkan masyarakat dibanding pendidikan formalnya.
Secara tak sadar, pada masyarakat akan terbentuk
pemikiran integratif karena merupakan tuntutan kebutuhan psikologinya. Pada
saat ini masyarakat tidak dapat berpikir hanya satu arah saja karena masalah
yang timbul multidimensi.
5.
Pemakaian
ayat-ayat dalam Alquran
Pemikiran tentang ayat-ayat Alquran berupa tafsir
terus berkembang menyebabkan persepsi umat beragama terus berkembang termasuk
penguatan ideologi dan keyakinannya. Akibatnya, merubah cara berpikir ummat
terhadap dirinya. Banyak bukti-bukti kebenaran ayat-ayat dalam Alquran dengan
fenomena alam menyebabkan keyakinan penganut agama semakin kuat. Alquran
dijadikan sumber inspirasi dalam dunai ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan ditentukan dengan
perkembangan ilmu-ilmu baru muncul salah satunya karena adanya temuan
teori-teori baru. Teori baru dikembangkan manusia dalam menjawab kebutuhan
manusia mempertahankan dirinya hidup di alam. Peradaban manusia disebabkan
karena adanya teori baru dalam ilmu pengetahuan. Jika Alquran dijadikan sebagai
teori, kedudukan Alquran menjadi dapat berubah kebenarannya, menjadi tidak
ilmiah. Kebenaran ilmiah dan kebenaran berbeda hakiki (kebenaran mutlak)
tentang wahyu Tuhan.
Kebenaran Alquran adalah kebenaran yang bersifat
mutlak dan transdental, kebenaran yang hakiki. Klaim kebenaran ini bukan hanya untuk
penganut agama Islam saja melainkan semua makhluk karena merupakan sunatullah
atau hukum alam. Kebenaran-kebenaran lain adalah kebenaran empiris yang
diciptakan oleh manusia, sehingga sifatnya sangat tentatif. Kebenaran Alquran
diperdebatkan manusia untuk menambah keyakinan bukan untuk menguji secara
sentimen. Jika kebenaran Alquran dilakukan secara sentimen tentu manusia tidak
akan mampu sampai kepada hakikat makna sebenarnya. Kebenaran itu seharusnya
dibuktikan secara ilmiah melalui penerjemahan secara sains dan teknologi dengan
mencoba Alquran dijadikan sebagai ide sentral, semangat dala merancang kemajuan
peradaban ilmu dan masyarakat.
6.
Pemaknaan
terhadap tat kehidupan saat ini
Situasi yang berkembang menuntut manusia berpikir.
Pemikiran ini menyebabkan orang berkompetisi mempertahankan hidupnya. Pertahanan
itu dilakukan dengan penuh pengorbanan dan pertimbangan, pemikiran
mempertahankan hidup orang pada saat ini berbeda dengan masa lalu. Semakin
banyak jumlah manusia, semakin banyak banyak perangkat kehidupan manusia. Teknologi
informasi menyebabkan cara berpikir orang berubah.
Pendekatan kehidupan sangat pragmatis dan melupakan
unsur kemanusiaan, antarmanusia saling bunuh, saling fitnah, dengan
memanfaatkan pikiran dan golongannya. Jiwa sosial dan rasa kemanusiaan sudah
bukan lagi merupakan bagian dari kehidupan dirinya.
Dimensi fisik adalah interasi kurikulum, integrasi
konsep dalam ilmu tertentu misalnyaa ilmu agama dalam sains kimia, ilmu agama
dengan konsep matematika, dan integrasi dalam pelaksanaan sebuah pekerjaan.
Dimensi non fisik termasuk didalamnya integrasi dalam cara berpikir, integrasi
dalam konsep, integrasi dalam prses, integrasi dalam hasil.
BAB VII
REKONSTRUKSI
PEMIKIRAN
SEBAGAI CIRI
MASYARAKAT MODERN
Masyarakat modern terbentuk dari sekumpulan
komunitas manusia modern. Manusia modern tentu bukan manusia primitif. Yang
dimaksud manusia bukan dala arti fisik melainkan dalam konteks pemikiran yang
mencirikan seseorang dapat dikategorikan manusia modern. Ciri manusia modern
memiliki karakter, tabiat dan perilaku yang berbeda dari manusia primitif. Sementara
manusia primitif dalam konteks ini lebih mementingkan kebutuhan fisik dan
biologis.
Kehidupan saat ini menuntut setiap orang memasang
pikiran (mindset) integratif bukan split atau kotak-kotak atau terlalu berpihak
dengan tidak ada alasan yang logis. Alasan logis didasarkan pada pikiran normal
bukan sentimen kemanusiaan. Pemikiran manusia modern dicirikan dengan berbagai
kebutuhan (selain makan, minum, sex, dan sebagainya yang bersifat kebutuhan
fisik dan biologis) sebagai indikator pemikiran integratif, kebutuhan itu
menyangkut rasa antara lain; bahagia, sejahtera, bersama, merdeka (bebas
berpikir dan berekspresi), puas, tenang, memiliki masa depan, harap (asa untuk
berlanjut), jejaring, komunikasi, aktualisasi diri, kepercayaan, nyaman, aman,
serta bijak untuk dirinya dan untuk orang lain.
Kebahagiaan merupakan kondisi hati yang dipenuhi
dengan kayakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya. Imam
Ghozali mengatakan bahwa pucuk kebahagiaan manusia jika mencapai makrifat kepada
Allah, telah mengenal Allah, beliau menyatakan ‘’ketahuilah bagian tiap-tiap
sesuatu bila kita merasakan nikmat, kesenangan, dan kelezatan rasa itu ialah
menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang
indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala
anggota yang lain dan tubuh lainnya.’’. Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu.
Ilmu mengenal Allah, sifat Allah, ciptaan Allah, keyakinan tiada Tuhan selain
Allah, untuk itulah mengenal kebahagiaan yang abadi, mengenal Allah dengan ayat
yang mampu menghantarkan manusi kepada keyakinan bahwa tiada Tuhan selain
Allah.
Kebahagiaan menurut agama Hinsu adlah subjek
primordial, merupakan sifat dasar alamiah dari seorang manusia yang sewajarnya.
Kebahagiaan tidak terlepas dari sikap ikhlas. Komponen ikhlas terdiri atas
sikap syukur, sabar, fokus, tenang, kadang dianggap sikap yang lemah, padahal
jika mampu berpikir jernih hal ini menjadi kekuatan. Menurut ajaran Hindu bahwa
manusia adalah makhluk bebas yang bebas melakukan apa saja yang diinginkan
dalam hidup.
Menurut Socrates hanya orang yang menguasai hawa
nafsunya yang bisa bahagia. Selanjutnya, jika manusia mencapai kebahagiaan
dengan mengejar kenikmatan-kenikmatan jasmani semata. Konsep hidup manusia
modern sangat pragmatis. Dilihat dari sisi teknis material manusia modern butuh
‘’makanan pokok’’ informasi untuk memenuhi kebutuhan utamanya yaitu serba
cepat, serba praktis, sederhana, berkualitas, dan substantif.
Tidak ada konflik antara sains dan agama. Sains
membutuhkan agama dan agama juga memerlukan sains, saling ketergantungan satu
sama lain. Semakin dalam mempelajari agama, semakin unggul dalam sains. Ranah
akal dan hati dalam dalam konteks sains modern adalah menyatu selama menyangkut
islam sebagai agama. Sains adalah sebagai upaya intelektual dan kultural yang
bebas nilai adalah tidak sesuai dengan kebutuhan realitas kehidupan manusia. Pandangan
sains bebas nilai adalah keluar dari kodrat manusia yang memiliki kebutuhan
alamiah yakni integrasi.
Islamisasi ilmu pengetahuan atau islamisasi sains
muncul tahun 1970-an dan terus dikembangkan oleh komunitas di berbagai negara. Islamisasi
dalam konteks substansi contohnya adalah persepsi dan mindset. Substansinya adalah
ilmu itu bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Negara bahagia adalah negara yang merdeka,
berdaulat, rakyatnya saling menghargai dan saling percaya satu sama lain,
saling mencintai dan hidup damai dalam sebuah komunitas negara, produktif
dihargai masyarakat dunia.
Wan Mohd Nor Wan Daud menggambarkan perumpamaan
untuk membangun sebuah negara maju dengan konsep ‘’1 Malaysia’’ dengan prinsip
integrasi membangun negara yang bahagia. Pemerintahan Iman al-Ghozali
menggambarkan perumpamaan pohon berikut: akar menggambarkan adanya kematian,
kenabian, adanya hari akhir, firman Tuhan, pahala Tuhan, Tuhan mendengar dan
melihat, Tuhan mengetahui segala sesuatu, kehendak Tuhan, kekuatan Tuhan,
sifat-sifat Allah (asmaul husna), Allah Maha Pencipta dan Memelihara alam nyata
di dunia. Bonggolnya adalah keyakinan dan kepandaian serta pengalaman. Kemudian
ranting dan daun menggambarkan tidak melanggar hukum Islam, kerja keras, dan
sungguh-sungguh untuk dicintai masyarakat, terus terang kepada masyarakat,
mampu mengontrol perasaan, penuh perhatian kepada permohonan yang adil, selalu
diskusi dengan kaum cendekia, serius dan mampu memiliki rasa tanggung jawab.
Income masyarakat disesuaikan dengan kebutuhan yang
bervariasi sangat ditentukan dengan kepentingan dan kemampuannya, keluarga,
keamanan, kesehatan, kebebasan dalam beragama, dan akhirnya memiliki peluang
untuk memiliki pandangan mencapai otoritas semua tingkatan.
Konsep manusia dalam membangun peradaban baru
yakni peradaban integrasi. Manusia secara alamiah adalah terpadu atauh
terintegrasi dengan alam dan lingkungannya. Konsep manusia modern adalah manusia
yang memiliki sosok dengan ciri-ciri yang dapat dipelajari dan ditiru oleh
manusia lainnya. Karakter manusia modern memiliki keyakinan dan intelektual. Hal-hal
yang memperkuat sifat-sifat kemanusiaan sebagai ciri manusia modern yaitu:
a.
Dignity, self-respect, human
brotherhood, and social equality
Manusia itu memiliki martabat, respek diri, makhluk
yang bersaudara dan makhluk yang suka bersosial dan merasa bahwa manusia itu
sama saja sebagai makhluk Tuhan.
b.
Justice
Manusia memiliki sifat adil atau keadilan, rasa
ingin diperlakukan adil, dan harus memperlakukan adil bagi orang lain. Manusia
akan merasa aman jika diperlakukan adil dan berbuat adil.
c.
Spiritual and moral uplift
Manusia mampu meningkatkan spiritual dan moral diri,
menganggap bahwa ada kekuatan di luar dirinya sebagai makhluk Tuhan.
d.
Security of life, property and
honor
Manusia memiliki kemampuan mengamankan dan
menyelematkan diri dalam hidup dengan cara memiliki harta kekayaan.
e.
Freedom
Manusia memiliki kebebasan dalam hidup. Kebebasan
ini adalah kebebasan yang terbatas, sebab yang bebas dalam arti hakiki hanyalah
Allah Swt. Manusia hidup bersama-sama memiliki kebebasan.
f.
Education
Manusia memiliki sifat pembelajar, pendidikan adalah
bagian yang mejadi ciri keberadaan manusia. Kebebasan manusia salah satunya
ditentukan oleh pendidikan. Pendidikan penting untuk menjadikan manusia hidup
sebagai manusia.
g.
Good governance
Manusia memiliki sifat memerintah, mengatur,
menguasai, dan bisa menjadi pemerintah yang baik.
h.
Need fulfillment
Manusia memerlukan kebutuhan. Kebutuhan tersebut
berkaitan dengan kebutuhan fisik dan nonfisik.
i.
Employment and self employment
Manusia itu memerlukan penghargaan dalam bentuk
jabatan. Jabatan pada manusia diperlukan untuk memenuhi hasrat dihargai orang nomor
satu, hasrat mengatur, hasrat berkuasa, hasrat memberi amanah pada bawahan,
hasrat memberikan tauladan sebagai orang nomor satu, hasrat memimpin, dan
hasrat mentaati aturan.
j.
Equitable distribution of income
and wealth
Manusia memerlukan kepatutan dalam melakukan
distribusi penghasilan dan kekayaan. Manusia memikirkan bagaimana urusan
pemasukan yang normal, adil, patut serta tingkat kekayaan yang sesuai dan
wajar.
k.
Marriage and proper upbringing of
children
Manusia memikirkan bagaimana pernikahan dan
keinginan untuk memiliki dan mangasuh anak-anaknya sebagai usaha meneruskan
keturunan.
l.
Family and social solidarity
Ciri manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia
adalah makhluk sosial yang suka bergaul dengan manusia lain untuk kepentingan
memenuhi kebutuhan diri dan menyelamatkan diri dalam hidupnya.
m.
Minimization of crime and anomie
Manusia memiliki kemampuan untuk meminimalisir
kriminal dan perbuatan ganjil atau menyimpang. Sifat kemanusiaan tentu salah
satunya ditentukan dari kriminalitas dan perilaku menyimpang.
n.
Mental peace of happiness
Manusia memiliki mental perdamaian dan kebahagiaan.
Rasa damai, rasa bahagia, rasa cinta merupakan ciri manusia yang normal.
Keempat belas indikator terpenuhi maka tiga target
karakter manusia modern akan terpenuhi yaitu:
1.
Wealth
Manusia
modern sepatutnya memikirkan target dalam hidupnya yaitu sehat. Aspek hidup
sehat menjadi bagian yang paling dominan sebagai target utama, sehingga tidak
asal hidup. Sehat secara garis besar terdiri dari sehat jasmani dan sehat
rohani atau sehat secara agama. Masyarakat yang tidak sehat secara sosial,
secara mental, dan secara intelektual sangat beresiko untuk membangun komunitas
manuisa sehat sesuai ciri manusia modern. Wujud resiko manuis antara lain: (1)
jarang dirasakan oleh dirinya, sehingga ia merasa sehat seperti biasa padahal
ia sakit dan sakitnya akan terus menerus dan semakin parah, (2) dapat
melahirkan pemikiran falase dan tidak mengindahkan etika kemanuisaa, (3) mati
rasa (tega), dia tidak akan menghiraukan penderitaan orang lain, (4) menularkan
pemikirannya kepada orang lain untuk mencelakakan orang lain, (5) merasa benar
sendiri sementara orang lain salah, (6) mengabaikan saran dan kritik orang lain
untuk dirinya, (7) menganggap remeh untuk pihak lain di luar dirinya, (8)
berani mengorbankan kehormatan dirinya untuk mencapai nafsunya, termasuk untuk
sesuatu yang belum jelas manfaatnya, (9) tidak berpikir keadilan, mementingkan
diri sendiri, (10) kadang agama dan keyakinan dirinya kepada Tuhannya tidak
punya pengaruh sama sekali, (11) kadang-kadang berpikir negatif, sehingga
hilang rasa malu, (12) selanggar melanggar norma dan aturan yang ada, (13) nyeleneh
atau melakukan ucapan atau kata-kata aneh, raut muka yang khas, nahasa badan
atau tindakan yang tidak seperti biasanya, sebagai akibat dari pemikirannya
yang sakit.
2.
Intellect
Dengan
intelek manusia dapat melakukana apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagian
ahli menyebutkan bahwa intelek itu adalah akal, sebenarnya intelek merupakan
kemampuan sesorang dalam menggunakan otaknya untuk merespons stimulus yang
diberikan lingkungan.
Intelek
manusia mampu mengubah masyarakat, lingkungan, dan peradaban. Kemajuan sebuah
negara sangat dipengaruhi oleh intelektual warga masyarakatnya. Sifat
intelektual pada manusia dapat membawa masyarakat menjadi dewasa dan maju serta
berperadaban.
3.
Posterity
Keturunan
sangat erat hubungannya dengan masalah waris, perkawinan, hubungan kemanuisaan
lainnya. Keturunan sangat penting dalam konteks membangun keluarga.
Ketiga
keadaan yang membangun karakter manusia yaitu dari sisi kesehatan, intelek, dan
posterity menentukan kayakinan dan kepercayaan manusia itu. Keyakinan pada
Tuhan ditentuka oleh tingkat kesehatan manusia, baik kesehatan fisik maupun
kesehatan nonfisik.
Keyakinan
yang paling utama tentu keyakinan atau keimanan kepada Tuhan Allah Swt., tetapi
keyakinan terhadap dirinyabahwa dia mampu hidup di dunia adalah alamiah sebagai
manusia.
Kenaikan
yang utama adalah kebiakan dan kebahagiaan yang hakiki yakni kebaikana setelah
mati dan saat manusia masih hidup.
a.
Enrichment
of faith
Memperkaya
kayakinan menurut versi Muhammad Umer Chapra:
1)
World
view (tauhid, khilafah, risalah and akhirah)
Nilai-nilai
pandangan tersebut dilakukan dengan melalui pemahaman persepsi, internalisasi,
dan perilaku yang berorientasi serta berbasis pada:
·
Values
(Rules of behavior)
Nilai merupakan
aturan yang memagari perilaku manusia. Nilai merupakan bagian penting dari
manusia yang membedakan dari yang normal dan yang tidak normal.
·
Proper
Motivation
Faktor-faktor
yang menentukan motivasi diri dapat bersumber dalam dari dirinya dan juga
lingkungannya, dari dirinya terkait dengan keyakinan, pengalaman, sifat, nilai
yang ada, dan faktor pengetahuan.
·
Education
(moral as well as material)
Pendidikan
merupakan sarana meningkatkan keyakinan kepada Tuhan. Pendidikan bagi manusia
dapat mengurangi taklid, sehingga keyakinan yang dimiiki berdasarkan atas
pengetahuan dan pengalamannya.
·
Justice,
freedom, security of life, property and honor, honesty, fulfillment of all
socio-economic and political obligations, patience, thriftiness, rudance, tolerance,
mutual care and trust, etc.
·
Removal
of property, need fulfillment of all, and available of employment and
self-employmenta opportunities.
·
Equitable
distribution (human brotherhood)
·
Enabling
environment for rightteousness, family integrity, social solidarity and
political stability.
·
Role
of the state
b.
Good
Governance
c.
Enrichment
of selt, intellect, posterity and wealth
d.
Wall-being
of all
Identitas
kebaikan semua merupakan kesempurnaan target manusia modern.
e.
Enrichment
of ‘aql (intellect)
Beberapa
ciri manusia modern yang memiliki kekayaan intelektual yang baik adalah:
·
High
quality of religious and science education at afforable prices
·
Emphasis
on the maqosid in the interpretation of texts
Manusia
modern memiliki kelebihan intelektual
·
Library
and research facilities
·
Freedom
of thought and expression
Kebiasaan
berpikir dan berekspresi merupakan ciri utama manusia modern.
·
Reward
for ceative work
·
Finance
Hal
keuangan merupakan bagian yang sulit dipisahkan untuk manusia modern.
·
Teget
enrichment of intellent
·
Expansion
of knowledge
f.
Enrichment
Posterity
Kepuasan
ini juga yang menjadi sebab manusia merasa menjadi manusia, yaitu:
·
Proper
upbringing, moral and intellectual development
·
Marriage
and family integrity
·
Need
fulfillment
g.
Sustainable
human development
BAB VIII
KEMAMPUAN MENGELOLA RASA SEBAGAI CIRI MANUSIA
A.
Pengantar
Rasa pada manusia merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari tubuh. Rasa pada manusia tidak sekedar melakukan fungsi-fungsi
biologis, tetapi otak juga memberikan intruksi pada jaringan saraf supaya rasa
melakukan fungsi-fungsi lain. Rasa pada manusia bisa dapat memanusiakan
manusia, dan dapat menghewankan manusia. Manusia dapat memiliki sifat seperti
hewan, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan sifat hewan yang paling galak,
ganas, tidak mau berkerabat seperti srigala, harimau, anjing gila, babi, kalajengking,
dan lainnya. Rasa pada manusia memiliki fungsi memberikan pertimbangan dalam
proses berfikir. Rasa selalu menyertai pemikiran manusia ketika proses berpikir
dilakukan. Manusia terkadang mengabaikan komponen rasa dalam berpikir, padahal
rasa perlu dikelola secara baik untuk menyempurnakan nilai kemanusiaan.
B. Fenomena
Perdebatan mengenai integrasi sains dan agama masih
terus menjadi bahan pembicaraan. Like winarjo mengemukakan 4 hubungan topologi
yang mungkin dilakukan antara ilmu dan agama. Keempat hubungan itu disebut
dengan 4P, yaitu pertentangan, perpisahan, perbincangan, dan perpaduan. Keempat
jenis hubungan tersebut ketika pandangan itu dibawa dalam komunikasi dan
hubungan dalam masyarakat, kemudian teori social masuk dalam melakukan intervensi
baik personal maupun kolektif tata kehidupan, maka muncul kompetensi pemikiran
yang menyebabkan tmbulnya konflik baru. Konflik baru muncul akibat langsung
dari mindset yang terbangun ketika menerapkan hubungan pola integrasi sains
dengan agama. Fenomena seperti yang terjadi dan menjadi bahan pembicraan diatas
dapat dibantu penyelesainnya melalui pemikiran integrative yang melibatkan rasa. Pertentangan yang
selama ini muncul disebkan karena agama dibawa pemikiran logis, objektif, dan
pemikiran sistematik yang hanya melalui otak. Tentu saja timbul resah dan
konflik dalam jiwanya karena tidak semua substansi agama secara otomatis
dipahami melalui pemikiran manusia biasa. Kebenaran agama hanya mungkin
“didekati” oleh orang-orang yang mampu menggunakan otak, jantung, dan rasanya
untuk berpikir luhur dalam mendekatkan dirinya kepada Tuhan, bukan manusia yang
menuhankan dunia sebagai target pemikirannya.
C. Mengelola Kerja
Otak Dalam Membuat Keputusan
Otak manusia dapat mengelola kerja otak dalam
membuat keputusan. Untuk mengetahui bagaimana cara kerja otak itu sendiri tentu
saja harus ada kajian mengenai struktur dan anatomi otak manusia. Para ahli
menemukan bahwa otak memiliki fungsi sangat kompleks selain pengatur tubuh
secara umum, otak memilki fungsi sangat canggih
seperti fungsi intelek, ide, kebenaran, kepribadian, logika, perencanaan,
keterampilan social, humor, kesadaran, minat, mental, fleksibilitas, empati,
sebagai tempat penyimpanan memori kerja dan bahkan banyak yang lainnya.
Sementara secara anatomi, otak dapat bekerja disebabkan karena ada asupan darah
yang cukup mengalir ke otak sehingga menghasilkan energy listrik yang cukup
untuk mampu mengatur fungsinya. Hal yang
menarik dari otak yaitu adanya hemisfer atau beahan otak.
D. Mengelola Rasa
Melalaui Kerja Otak Untuk Berpikir
Otak manusia memiliki berbagai keistimewaan. Otak
mengendalikan seluruh organ tubuh yang lain ketika organ itu melakukan
respondnya terhadap lingkungan. Akan tetapi, kerja otak secara psikologi
kognitif dan teori berpikir jauh lebih kompleks dan lebih sukar diukur, itulah
sebabnya proses berpikir masih merupakan rahasia yang harus terus dilakukan
kajian. Salah satu hasil kajian psikologis kognitif menjelaskan bahwa pemikiran
itu merupakan proses mental terhadap input panca indra dan pengamatan yang
telah diingat dan tersimpan dalam memori otak untuk mengurangi dan menjelaskan
buah pikiran dengan tepat, meramal, dan membuat keputusan. Proses berpikir
sekurang-kurangnya ada 3 komponen utama, yaitu operasi, pengetahuan, dan
kecenderungan.
E. Mengelola Rasa
dalam Membuat Keputusan
Rasa
sangat pribadi sifatnya. Rasa dapat diukur dan dibutikan, tetapi rasa tidak
dapat di interprensi. Rasa didukung oleh faktor hormon yang akan keluar ketika
mendapat stimulus dari lingkungan, stimulus ini dapat hadir secara hormonal, kognitif, maupun
secara fisik.
Rasa
nyaman dapat diungkapkan ketika otak memberi respon terhadap tubuh yang
positif. Rasa tenang diungkapkan seseorang ketika otak dan jantung memberikan
respon positif. Rasa enjoy diungkapkan seseornag
ketika memperoleh kepuasan sementara pola pikir diwujudkan seseorang ketika
menghadapi masalah untuk diselesaikan.
F. Mengelola
Jantung dalam Membuat Keputusan
Jantung
merupakan organ vital dimana berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Jantung memiliki
fungsi lain sama seperti fungsi otak yaitu untuk berfikir. Jantung terdiri
darin daging yang memiliki ciri khusus dan itulah yang memiliki fungsi sama
sperti fungsi otak yaitu untuk berfikir, jantung sebenarnya memiliki energi
listrik yang lebih besar dari pada otak.
Secara
fisik hasil kerja jantung menghasilkan energi listrik yang mempunyai fungsi bekerja yang sama seperti otak yakni untuk berfikir.
Berfikir dengan sifatnya lebih luhur dan mulia. Berfikir dengan jantung melahirkan
kemuliaan, kelembutan dan sifat-sifat Tuhan melekat pada diri manusia
G. Pengalaman
Ilmuan Indonesia
Prof.
DRr dr Dede Kusuma, Sp. Jp (K) seorang ahli jantung, beliau membuktikan bahwa
jantung memiliki bagian yang sama seperti otak, jantung memiliki energi listik
yang lebih besar dibandingkan dengan otak. Beliau menyatakan bahwa menurutnya
jantung menentukan karakter manusia. Jika jantung manusia berkarakter tidak
baik dipindahkan kepada manusia yang berkarakter baik, manusia yang berkarakter
baik menjadi tidak baik. Jadi, melalui pengukuran jantung manusia dapat
diketahui karakternya.
H.
Keseimbangan
Otak, jantung dan Rasa
Manusia memiliki ruh, jiwa, rasa, otak, jantung, hati, bahkan ada yang menyebut
memiliki akal. Selanjutnya sudah jelas bahwa ciri manusia dapat berfikir, memiliki
mindset, sikap dan prilaku.
Rasa dalam diri seseorang dapat menghubungkan
dirinya sendiri dengan lingkungannya, bahkan antara diri dan Tuhan-nya,
sehingga respon menjadi benar dan baik. Rasa yang menjadi bagian penting dalam
proses berfikir manusia terdapat beberapa diantaranya:
1.
Rasa
Biologis (Fisikal)
Rasa
biologis atau fisikal adalah bentuk naluri makhluk sebagai hewan atau binatang,
rasa biologis dimiliki oleh semua hewan walaupun tergantung tingkat
kesempurnaanya. Rasa biologis seperti makan, minum, seks, sakit, sehat, panasm
dingin, lapar, harus dsb.
2.
Rasa
Kemanusiaan
Rasa
kemanusiaan adalah kesadaran diri yang berasal dari naluri dengan pengalaman.
Rasa kemanusiaan muncul akibat seseorang melakukan interaksi antara
lingkungannya. Beberapa ciri rasa kemanuisaan yang biasa muncul diantaranya
adalah nurani, kata hati, feeling, firasat,
melaksanakan norma, sedih melihat sesama manusia mendapat musibah, komunikasi
dsb.
3.
Rasa
Jiwa
Rasa
jiwa adalah bentuk kesadaran diri yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan
rasa kemanusiaan. Rasa jiwa di terdiri dari tiga komponen yang berfungsi
merealisasikan kesadaran jiwa pada seseorang, yaitu rasa biologis atau fisik,
rasa kemanusiaan dan rasa jiwa itu sendiri.
4.
Rasa
Mulia dan Luhur
Rasa
mulia dan luhur adalah bentuk kesadaran diri yang berwujud pebuatann di atas
rasa kemanusiaan dan berdampak positif dan memiliki nilai manfaat pada dirinya
sendiri lingkungan serta manusia di luar dirinya berikut adalah contohnya
seperti tidak ingin mencelakan orang, tidak ingin memang sendiri, merasa diri
ada kemungkinan berbuat salah dan merasa orang lain benar, merasa diri sama di
hadapan Tuhan, tidak menyakiti orang lain dan lain sebagainya.
5.
Rasa
Ketuhanan
Rasa ketuhanan
adalah bentuk kesadaran diri paling tinggi dalam bentuk perenungan paling
mendalam dalam melakukan koordinasi langsung dengan Tuhan, seperti keimanan
kepada Tuhan, merasa dilihat Tuhan, mengharap pertolongan Tuhan, mengharap
pahala Tuhan.
BAB IX
PENGALAMAN
SPIRITUAL DAN INTELEKTUAL
A.
Pengantar
Setiap orang dalam hidup biasanya ada masa-masa
sulit dan ada juga masa-masa yang menyenangkan, menggembirakan, dan memberikan
harapan. Masa sulit adalah masa dimana kita masuk kedalam zona yang tidak biasa
kita alami. Zona ini dinamakan zona tidak nyaman dalam psikologi. Oleh karena
itu sepatutnya kita tidak berlebihan ketika kita berada pada zona tidak nyaman.
B.
Kemampuan
Menganalisa Masalah
Kemampuan
dalam diri bhawa apa yang dilakukan adaalh benar, maka keberanian kemudian
muncul walaupun lingkungan menilai tidak sesuai harapan, bahkan hampir negatif.
Dalam kehidupan terdapat lima faktor sebagai berikut
·
Kebenaran
·
Kejujuran
·
Kesabaran
·
Usaha
·
Doa
Kelima faktor sangat erat kaitanya dengan
keberhasilan dalam menghadapi fenomena kehidupan. Jika kita melakukan satu kebenaran itu
merupakan modal dasar yang paling besar yang dapat menangkal segala kemungkinan
yang akan terjadi. Fenomena kebenaran harus disampaikan dengan perilaku jujur
sehingga, apa yang dilakukan sesuai dengan yang dikatakan.
1. Menentukan
Masalah Sesuai Skala Prioritas
Ketika muncul
satu kejadian yang dianggap masalah, dipaksa kita memetakan masalah itu.
Seterusnya kita menjawab persoalan itu dilakukan dalam waktu yang singkat dan
bersamaan (tidak kurang dari 10 menit). Akan tetapi untuk memastika kebenaran
dan validitas jawaban itu, baru dikelola secara ilmiah (secara spiritual dan
intelektual), untuk ini waktunya relatif.
Langkah
berikutnya mengetahui siapa yang terlibat didalam persoalan, maka dengan mudah
materi permasalahanya aka diketahui. Setelah itu tentu saja kita dapat menilai
kebenaran, bobot maslah dan keterkaitanyadengan se,ua pihak ditemukan, kemudian
bagaimana memmikirkan upaya penyelesaianya.
2. Menyelesaikan
Masalah Seseuai Urutan Yang Mungkin
Pada fase ini kita usdah memetakan maslah secara
baik, termasuk urutan penyelesainya. Dalam menyelesaikan masalah tenteu dapat
dilakukan dengan urutan paling umum atau kompleks maupun paling khusus atau
paling sederhana. Perlu diperhatikan setiap maslaah tidak berdiri sendiri akan
tetapi saling keterkaitan anatara satu dengan yang lain. Dengan bahasa lain
masalah perlu diproteks agar masalah tidak menyebar atau tidak bertambah. Menyelesaikan maslah
yang mungkin dengan menggunakan win win
solution supaya kedua pihak tidak merasa dirugikan.
3. Terus
Berusaha Mencari Peluang Dengan Mempertaruhkan Kebenaran Yang Dimiliki Dengan
Model Paling Utama.
Mencari peluang
dengan mempertaruhkan kebenaran itu sebagai modal perjuangan. Mempertahankan
kebenaran adalah jihad, kebenaran oleh siapapun wajib dipertahankan.
4. Tidak
Lupa Berdoa Kepada Allah Karena Sekenario Itu Sebenarnya Yang Membuat Allah
Sendiri.
Hakikatnya apa saja yang dialami manusia dalam
kehidupan dimuka bumi ini adalah sebagai ujian dari Allah. Oleh karena itu doa merupakan bagian penting dalam
kehidupan bagi orang yang mau berfikir. Doa dapat berbentuk permintaan langsung
kepada Allah dalam bentuk permohonan secaraverbal atau nonfisik, dapat juga
secara lahiriah kepada manusia untuk menyelesaikan maslah tersebut.
5. Kebenaran
Modal Utama Ketenangan Jiwa
Menyelesaikan masalah perlu ketenangan. Tenang
adalah aktifitas psikologi yang dilakukan manusia. Ketenangan sangat erat
hubunganya dengan proses aliran darah yang mengalir keseluruh tubuh . dalam
konteks penyelesaian maslah, jika kita benar dalam berperilaku, gerakan jantung
dan kerja juga akan normal.
BAB
X
PERSEPSI
TERHADAP INTEGRASI ILMU
A.
Pengantar
Pemikiran manusia melahirkan pemahaman dan analisis, sehingga
menghasilkan persepsi. Persepsi seseorang terhadap satu hal dapat diperoleh
melalui pendidikan, perenungan, pemaknaan, pengaktifan, pembacaan, dan
introspeksi diri terhadap satu hal. Dalam konteks integrasi ilmu, persepsi
menentukan bentuk dan substansi terhadap makna integrasi. Hasil penelitian
menunujukkan bahwa dikalangan akademisi sekalipun kurang paham terhadap makna
integrasi keilmuan.
Bentuk variasi persepsi dan kecenderungan berpikir sebagaian
kalangan akademisi tentang integrasi keilmuan adalah integrasi keilmuan
merupakan suatu revolusi epistimologi karena sumber ilmu dari Allah s.w.t.
Alquran dan hadis menepatkan dan memandu keterkaitan naqliah dan aqliah,
dengan pengembangan sains berbasis nilai agama membentuk konsep, teori dan
praktek berdasarkan nilai-nilai islam.
1.
Integrasi
keilmuan merupakan keterhubungan keilmuan, tidak dikotomi antara umum dan
agama, baik dua atau lebih ilmu.
2.
Integrasi
kelimuan mencakup wilayah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
3.
Integrasi
keilmuan merupakan keterkaitan permanen.
4.
Integrasi
keilmuan itu menyandingkan, bukan menyatukan karena metodologi keilmuan antara ”Barat”
dan “Timur” berbeda, sehingga antara ilmu agama dan ilmu umum itu sangat
menguatkan.
5.
Integrasi
keilmuan itu menyelaraskan antara ilmu teori dengan ilmu praktik.
6.
Integrasi
keilmuan itu berada pada mindset.
7.
Integrasi
keilmuan itu bukan kerja individu.
8.
Integrasi
keilmuan itu menghubungkan antara ilmu.
9.
Integrasi
keilmuan itu kolaborasi antara bidang ilmu.
10.
Integrasi
keilmuan itu sejalannya antara keyakinan dengan perilaku.
Konteks persepsi terhadap integrasi seharusnya kalangan akademisi
mampu membangun sebuah peradaban baru masyarakat yang toleran terhadap
perkembangan ilmu-ilmu yang ada.
B.
Integrasi : Ilmu tidak Diktomi
Integrasi keilmuan merupakan keterhubungan keilmuan, tidak dikotom
antara ilmu dan agama, baik dua atau lebih ilmu. Pemikiran integrasi dalam
kontek membangun struktur keilmuan dalam masyarakat tidak ada perbedaan.
Perbedaan pemikiran dalam konteks ilmu secara alamiah terjadi, tetapi dalam
konteksn perilaku sebagai wujud pemanfaatan ilmu untuk kepentingan masyarakat
seharusnya terintegrasi. Dalam masyarakat kita, masih terjadi persepsi bahwa
mempelajari fisika lebih wajib karena dapat digunakan untuk kehidupan seperti
menjadi guru, menjadi ilmuan, atau yang lainnya. Sementara fikih tidak sehebat
ilmu fisika.
C.
Integrasi : Wilayah Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
Perbedaan implementasi antara ketiga wilayah ini menyebabkan
kehidupan menjadi berantakan, terror, radikalisme, fanatisme, egois, sombong,
tega terhadap manusia lain dan menafsirkan makna “komunitas” dalam arti yang
sempit, sehingga melupakan nilai kemanusiaan. Keruntuhan peradaban kemanusiaan
yang disebabkan karena tidak integralnya ketiga wilayah ini, dialami manusia
mana pun, termasuk kiai, ulama termasuk akademisi.
Pelanggaran norma masyarakat yang terjadi dapat disebabkan oleh
pemikiran persial, yang secara otomatis tidak sinergi apa yang diucapkan dengan
yang dilakukan. Secara biologis ketiga wilayah itu sejalan karena dikawal oleh
fungsi otak. Seseorang tentu saja ketika berfikir ingin makan, pasti sejalan
antara kognitip, sikap, dan keterampilannya. Dia akan pergi dan melakukan
makan, mengapa karena disuruh otak harus makan. Sehingga jarang terjadi pada
manusia ketika otaknya mengatakan makan, kemudian dia sikap dan keterampilannya
malah mandi. Apabila terjadi perbedaan atau tidak sinergi antara kerja pada
kognitif, efektif, dan psikomotor ini merupakan musibah bagi dunia kemanusiaan.
D.
Integrasi : keterkaitan permanen antara disiplin ilmu, memadukan
sains dengan nilai-nilai dan agama, termasuk dalam konteks pengembangan
kurikulum, dan pembangunan paradigm keilmuan
Pandangan sebagian orang menyatakan bahwa antara disiplin ilmu itu
bisa dikaitkan secara permanen. Ada dua pandangan yang berkaitan dengan masalah
integrasi keilmuan. Pertama, integrasi pada material, kedua pada
personalnya. Itegrasi, pada materi bahwa secara substansi materi sudah
mengandung unsur-unsur integrasi. Pemahaman tersebut sangat sesuai dengan
pengembangan kurikulum, karena sebenarnya integrasi ilmu-ilmu itu sangat
ditentukan oleh orang yang bersangkutan.
E.
Temuan Hasil Kajian Terbatas
Berikut hasil penelitian tentang persepsi integrasi keilmuan.
1.
Persepsi
terhadap integritas berkaiatan dengan konten keilmuan
a.
Integrasi
science, al-quran dan hadits memiliki keterkaitan baik filosofis, struktur, dan
epistimologi. Materi keilmuan berkaitan dengan nilai-nilai keislaman “barat
sentris” merupakan counter pemikiran muslim. Gabungan ilmu, materi
kuliah, nilai keilmuan, metode, pendekatan beberapa ilmu merupakan keseimbangan
penjelasan antara humaniora, ilmu alam, dan tentang Tuhan (khalik).
b.
Integrasi
keilmuan harus berorientasi pada tujuan kemaslahatan manusia dengan pendekatan,
metodologi, dan saling mengisi sebagai wujud pengabdian pada Allah Swt.
c.
Keterkaitan
masing-masing disiplin.
2.
Persepsi
terhadap integrasi berkaiatan dengan bentuk-bentuk integrasi keilmuan
a.
Bentuk
integrasi yang diterapkan: short course, penyatuan mata kuliah pada sisi
landasan filosofis.
b.
Bentuk
model integrasi, kajian agama, dan ilmu social.
c.
Bentuk
integrasi di kampus berupa pemahaman, keterpaduan iptek dan Islam, tafsir
‘hermenetik’ dan keilmuan integrative.
d.
Bentuk
integrasi di kampus yakni konsorsium ilmu, memadukan kealaman, keagamaan,
pembelajaran bahasa arab dan bahasa inggris, integrasi aplikatif, model
keahlian bidangnya, tafsir kependidikan, menyatukan ilmu sesuai konteks
kurikulum, bentuk baku aturan institut.
3.
Persepsi
terhadap integrasi berkaitan dengan hakikat integrasi keilmuan
a.
Integrasi:
keterpaduan antara science dan agama, memberikan ruh dan nilai-nilai
religius, dan pemahaman ilmu itu dari Tuhan.
b.
Integrasi:
upaya pikiran, rohani, dan perilaku, mengharmonisasikan aqliah-naqliah dan
mengkontruksi ilmu baru yang relevan dan berfikir cerdas dalam dimensi
epistimologi dan sistem nilai.
c.
Tidak
ada dikotom dan memiliki kecakapan dalam penelitian dan percobaan ilmu umum
maupun agama.
d.
Mengimplementasikan
ilmu dengan paradigma berpikir dan memajukan umat, tetapi tidak harus menguasai
ilmu, menjadikan ilmu sebagai media untuk beribadah baik dalam pennetuan
mauapun proses pembelajaran.
4.
Persepsi
terhadap integrasi berkaiatan dengan mindset
a.
Setuju
integerasi pda mindset, menyatukan pikiran, rohani, rasa.
b.
Integrasi
teraplikasikan walaupun sistem belum mendukung.
c.
Menerapkan
ilmu kealaman dibarengi keislaman.
5.
Persepsi
terhadap integrasi berkaitan dengan pelaksanaan integrasi keilmuan pada lembaga
pendidkan
a.
Memiliki
mahasiswa komprehensif, menemukan sesuatu dengan bukti empiris, memperkaya
keilmuan yang bersifat komprehensif.
b.
Menjadi
pusat keilmuan yang berwawasan mudah beradaptasi dengan perkembangan ilmu.
c.
Integrai
sebagai penyempurna keislaman, menyatukan ilmu dengan naqilah yang
memandu aqliah, meningkatkan keimanan kepada Allah Swt Karena ilmu
memiliki ruh spiritual dan menjadi media ibadah kepada sang Khalik.
d.
Tidak
melakukan integrasi, memisahkan ilmu dengan amal, menjauhkan manusia dari
petunjuk Allah Swt (Tuhan).
e.
Kelemahan:
keilmuan mahasiswa kurang mendalam.
f.
Kekurangan:
ilmu bersifat dikotom, potensi dosen belum memiliki wawasan yang luas tidak
menguasai bahasa arab, bahasa inggris.


Komentar
Posting Komentar